LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TANAH HUTAN
Nama : FARHAN REZA PAHLEVI
NPM :E1B01733
Program Studi :Kehutanan
Hari/tanggal :Minggu , 20 Mei 2018
Nama Dosen : Ir Edi Suharto M.P
Nama Asisten :1.Aris Firnandes (E1B014021)
:2.Lista Siboro (E1B014069)
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
ACARA I
SUSUNAN VEGETASI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Vegetasi tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
Studi struktur dan klasifikasi komunitas tumbuhan (vegetasi) disebut juga fitososiologi, analisis vegetasinya disebut analisis vegetasi yang dapat secara kualitatif dan kuantitatif . Karena ada hubungan yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas disuatu lingkungan bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi dipermukaan bumi menunjukan pola diskontinyu. Seringkali sustu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik, kimia maupun biotik disuatu habitat cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas. Komunitas mempunyai beberapa kekhususan yaitu :
Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tetumbuhan secara vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan. Stratifikasi di hutan tropis umumnya terdiri dari lima lapisan atau stratum yaitu stratum A (strata emergent) yaitu lapisan tajuk hutan yang tingginya lebih dari 30 m, stratum B (strata kanopi) yaitu lapisan tajuk kedua dari atas yang tingginya mencapai 20 - 30 m, stratum C (strata subkanopi) yaitu lapisan tajuk ketiga dari atas yang tingginya mencapai 4 - 20 m, stratum D (strata understory) yaitu lapisan tajuk keempat dengan ketinggian 1 - 4 m, dan stratum E (lantai hutan/ ground) yaitu lapisan kelima yang tingginya 0 - 1 m (Indriyanto, 2006). Pada dasarnya strata pada pohon akan ditempati oleh satwa yang berbeda - beda, hal itu dipengaruhi oleh ketersedian sumberdaya dari masing-masing strata
Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan:
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput atau alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara “random sampling” hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systematic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu. Karena titik berat analisis vegetasi terletak pada komposisi spesies, maka dalam menetapkan besarnya atau banyaknya petak-petak sampling perlu digunakan suatu kurva (lengkung) spesiesnya. Kurva spesies tersebut diperlukan untuk:
1. Luas atau besar minimum suatu petak yang dapat mewakili tegakan.
2. Jumlah minimal petak-petak sampling kecil yang diperlukan agar hasilnya mewakili tegakan.
Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis vegetasi dan untuk mengetahui dominasi, kerapatan, dan frekuensi jenis vegetasi hutan alam maupun hutan pinus
2. Mahasiswa mampu menguraikan dominasi kerapatan dan frekuensi jenis vegetasi hutan alam dan juga hutan pinus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Vegetasis dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi spesies dan bentuk struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diamati adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman, 2001).
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi spesies dan bentuk struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan contoh, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam contoh ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Irwanto, 2010). Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitattertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990). Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan signifikan karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Vegetasi dalam artian lain merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur
(Natassa dkk, 2010).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Pita ukur
Meteran
Tali rapia
Pisau
Alat tulis
3.3 Cara kerja
Menentukan lokasi studi dan menentukan batas-batasnya.lokasi studi dapat berupa rerumputan,sesemaka,perdu,dan pepohonan ,daerah tersebut dibatasi
Menentukan luas tiap plot yaitu 20x20 m, 10x10 m dan 1x1 m
Melakukan pengamatan jumlah spesies dan jumlah individu tiap plot
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No
Variabel
Jumlah jenis pohon
Pohon
Tiang
Pancang
Semai
1
Vegetasi pohon
12
-
12
-
2
Vegetasi tumbuhan bawah
-
-
-
16
Hutan pinus
No
Variabel
Jumlah jenis pohon
Pohon
Tiang
Pancang
Semai
1
Vegetasi pohon
18
-
6
-
2
Vegetasi tumbuhan bawah
-
-
-
8
4.2 Pembahasan
Luas plot 20x20 M = 0.06 Ha
Dalam praktikum kali ini kami melihat vegetasi di hutan alam dan hutan pinus, adapun salah satu faktor penyusun hutan alam adalah vegetasi.Vegetasi merupakan suatu kumpulan dari berbagai macam tumbuhan yang hidup bersama di suatu tempat. Vegetasi selalu dinamis dan selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling), permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling), permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles), pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Untuk keperluan analisa vegetasi perludibedakan tingkat pertumbuhn tanaman adalah sebagai berikut :
Tingkat semai (sedling) yaitu tumbuhan dari mulai kecambah sampai 1,5 meter.
Tingkat pancang (sapling) yaitu permudaan yang tinggia lebih dari 1,5 meter, dengan diameter tumbuhan kurang dari 10 cm.
Tingkat tiang (pole) yaitu pohon muda yang memiliki diameter pohon 10-20cm.
Pohon dewasa (tree) yaitu pohon yang memiliki diamter lebih dari 20cm.
Hutan alam dan hutan pinus sangat berbeda, hutan alam yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, dan memiliki berbagai jenis pohon campuran dan dari segala umur. Sedangkan hutan pinus adalah tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga pinus, hutan pinus biasanya senagaja di budidayakan untuk memanfaatkan kayu dan getahnya, serta konservasi lahan.
Berdasarkan hasil pencuplikan pengamatan vegetasi dengan menggunakan metode plot 20 x20 meter, ditemukan jenis pohon yang dominan di setiap titik pengamatan yaitu jenis Pinus, jenis Ficus sedangkan . Kelimpahan jenis dalam hutan Pinus dan hutan alam di taba Penanjung secara deskriptif (penafsiran kualitatif) dapat dikelompokan menjadi kelompok heterogen rapat dan kelompok heterogen jarang. Sedangkan bentuk pertumbuhan vegetasi dalam kawasan terdiri dari tumbuhan berkayu dan pohon tinggi lebih dari 30 cm, tumbuhan berkayu dan semak kecil yang tingginya kurang dari 30 cm dan tumbuhan golongan rerumputan dan herba.
Praktikum analisis vegetasi hutan alam dilakukan dengan pembuatan dua petak ukur 20 kali 20 meter. Pada peta tersebut diukur pohonnya meliputi tinggi dan diameternya. Data yang didapatkan selanjutnya diolah untuk mendapatkan LBDS atau luas bidang dasar dan menghitung dominasi maupun dominasi relatifnya. Setelah itu, menghitung kerapatan dan kerapatan relatif nya. Hingga frekuensi dan frekuensi relatifnya. Dominasi dari petak yang ada relatif rendah karena tidak hanya didominasi oleh satu jenis tanaman saja.
Data yang didapatkan dari lokasi menunjukkan keadaan yang baik dengan indeks nilai penting sebesar 240 7%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat suatu jenis tanaman yang mendominasi namun angkanya tidak terlalu besar. Pohon yang mendominasi adalah pasang merah karena keberadaannya pada peta ukur tersebut cukup banyak.
Penghitungan IS atau kesamaan komunitas menghasilkan data sebesar 85,71%. Artinya keadaan tegakan memiliki kesamaan yang tinggi. Nilai tersebut menunjukkan bahwa antara kondisi primer dan setelah ditebang dari segi individu atau kerapatan memiliki tingkat kesamaan sekitar 85,71% artinya setelah dilakukan penebangan telah terjadi kehilangan jumlah individu sebesar 14,29% kesamaannya dari sebelum dilakukan penebangan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari hasil praktikum ini bahwa:
1. Analisis vegetasi dapat dilakukan dengan pembuatan plot yang berukuran 20x20 meter
2. Dominasi adalah tingkat dominan suatu jenis terhadap jenis lainnya di dalam suatu luasan atau suatu kawasan
3. Semakin rendah nilai dominasi maka keragaman dari jenis tanaman semakin tinggi
5.2 Saran
Untuk praktikan saat pengambilan data diharapkan memperhatikan saat Co-ass nya menjelaskan, agar tidak ada keliruan saat mengelola data
DAFTAR PUSTAKA
Irwanto. (2010). Analisis Vegetasi Parameter Kuantitatif (online): http://www.irwanto shut.net.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA. Malang.
Setiadi. 1984. Ekologi Tropika. ITB. Bandung
Natassa, dkk. 2010. Analisa Vegetasi dengan Metode Kuadran.
ACARA II
LANTAI HUTAN
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lantai hutan merupakan tempat terjadinya pembusukkan. Dekomposisi atau pembusukkan adalah proses ketika makhluk-makhluk pembusuk seperti jamur dan mikroorganisme pengurai tumbuhan dan hewan yang mati dan mendaur ulang material-material serta nutrisi-nutrisi yang berguna. Kawasan hutan dengan serasah yang menutupi tanah diareal itu berfungsi sebagai spons yang akan menahan air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Air hujan yang tertahan diserasah ini lalu meresap kedalam tanah
Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekologi. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi .Dekomposisi serasah adalah salah satu dari tingkatan proses terpenting daur biogeokimia dalam ekosistem hutan
Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan berbagai ekosistem mangrove dan sebagai sumber detritus bagi tanaman pada tingkat semai, serasah dapat menciptakan lingkungan mikro setempat berbeda dengan pelepasan nutrisi atau campuran phytotoxic selama pembusukannya, mengurangi erosi lahan dan evapotranspiration (tetapi mungkin juga menahan curah hujan) dan mengurangi temperatur tanah maksimum. Serasah juga dapat bertindak sebagai suatu faktor mekanik, merusakkan atau membunuh semai ketika gugur ke tanah. Disana dapat juga terjadi efek tidak langsung pada serasah daun, sebagai contoh, kelembaban yang lebih tinggi di dalam lapisan serasah dapat menunjang pertumbuhan jamur patogen yang dapat kemudian menyerang semai.
Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui biomassa lantai hutan.
Agar mahasiswa mengetahui perlapisan lantai hutan dan tingkat
dekomposisinya.
Agar mahasiswa mengetahui karakteristik tanah dan lantai hutan
apabila dibandingkan dengan tanah pertanian.
Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan contoh tanah
yang tepat dan mewakili satuan tanah teruji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah hutan terjaga kesuburannya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah bagian-bagian tanaman yang jatuh ke tanah, mati, dan diuraikan oleh organisme. Daun, ranting, cabang, buah, maupun batang merupakan bahan yang apabila terdekomposisi akan tereleminasi menjadi unsur yang siap digunakan oleh tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi tanah antara lain adalah lingkungan organisme pengurai, kelembaban, aerasi, pH tanah, dan juga temperatur atau suhu. (Cahyono, 1998)
.Horison O adalah lapisan seresah bahan tumbuhan, terdiri atas bagian-bagian yang tampak masih utuh, sebagian terdekomposisi, dan lengkap terdekomposisi. Horison ini menumpang di permukaan tubuh tanah mineral (Simon, 1988).
Lapisan litter ( L ) pada lantai hutan mempunyai cirri-ciri: seresah yang baru jatuh, kandungan air masih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar. F1 (Fragmentasi 1) mempunyai cirri-ciri: seresah yang mulai terdekomposisi, bentuk sudah tidak utuh, bentuk seresah asli masih keliatan, warna kecoklatan, masih merupakan satuan seresah tunggal. F2 (Fragmentasi 2) mempunyai ciri-ciri: berupa seresah yang terdekomposisi lanjut, bentuk asli sudah tidak keliatan lagi tapi masih bisa dibedakan jenis seresah, warna kecoklatan, saling lengket. Mempunyai ciri-ciri berupa seresah-seresah yang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak keliatan lagi, waran kehitaman, bentuknya remah, gembur. Lapisan H (Humus) yang mempunyai ciri-ciri: berupa seresah mbur dalayang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak kelihatan lagi, warna kehitaman, struktur remah dan gembur. (Cahyono, 2008).
Bahan serasah yang mempunyai nisbah C/N yang tinggi lebih sulit terdekomposisi dibandingkan dengan bahan serasah yang mempunyai nisbah C/N rendah (Murayama & Zahari, 1992 ). Akumulasi seresah bergantung pada tingkat penambahan seresah dan tingkat yang terdekomposisi. Bahan organik memainkan peranan penting di tanah sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi semua unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan dengan mencampur tanah membentuk alur-alur (Thompson & Throeh, 1978)
Biomassa lantai hutan terbagi dalam 3 lapisan yaitu : sersah, detritus, dan humus. Bahan – bahan ini siap digunakan oleh tanaman setelah terdekomposisi oleh mikroorganisme yang kemudian termineralisasi menjadi unsur – unsur (Siarudin dan Rachman, 2008).
BAB III
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
Alat dan Bahan
Kawat kuadratik ukuran 50 cm x 50 cm.
Pisau atau cethok.
Kertas sampul atau plastic
Alat tulis
Meteran
Cangkul
lup
Cara kerja
Meletakkan kawat kuadratik berukuran 50 cm x 50 cm pada lantai hutan yang masih utuh
Mengiris dengan hati-hati batas sampel tersebut dengan menggunakan pisau atau gunting.
Mengambil lapisan L (litter) pada bagian atas lantai hutan tanpa merusak keadaan dibawahnya, yang mempunyai ciri-ciri : seresah yang baru jatuh, kandungan air msih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar. Pisahkan lapisan L (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kantung terpisah yang berlabel.
Mengambil bagian F1 (fermentasi tahap 1) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang mulai terdekomposisi, bentuk sudah tidak utuh lagi, bentuk seresah asli masih kelihatan, warna kecoklatan, masih merupakan satuan seresah tunggal/ tidak saling lengket. Pisahkanlapisan F1 (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kontong terpisah yang berlabel.
Mengambil bagian F2 (fermentasi tahap 2) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang telah terdekomposisi lanjut, bentuk asli sudah tidak kelihatan lagi tapi masih bisa dibedakan jenis seresah, warna kecoklatan, seresah yang satu menempel pada seresah yang lain/ saling lengket. Pisahkan lapisan F2 (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kontong terpisah yang berlabel.
Mengambil lapisan H (Humus) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak kelihatan lagi, warna kehitaman, struktur remah, gembur dalam kantong terpisah yang berlabel.
Menimbang hasil pengambilan lapisan L, F1, F2 dan H yang telah dibedakan daun, tangkai/dahan, bunga/buah sebagai berat basah C sampai mencapai(
Memasukkan lapisan L, F1, F2 dan H ke oven 65 berat kering mutlak
Menghitung kadar air, biomassa tertentu dan biomassa total dalam kg/ha
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No
Variabel
Lantai hutan
Seresah
Detritus
Humus
1
Ketebalan (cm)
3,2,3,3
1,2,2,1
1 1,5 1,5 1
2
Komposisi(%)
54,17 %
25 %
20,83%
3
Fauna(jenis)
Semut
semut
Semut, cacing
4
Jasat renik(kelimpahan)
jamur
jamur
-
Hutan pinus
No
Variabel
Lantai hutan
Seresah
Detritus
Humus
1
Ketebalan (cm)
6,4,9,4
1,2,3,3
1,2,3,3
2
Komposisi(%)
70%
19%
11%
3
Fauna(jenis)
2
1
1
4
Jasat renik(kelimpahan)
1
Pembahasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi tanah antara lain adalah lingkungan organisme pengurai, kelembaban, aerasi, pH tanah, dan juga temperatur atau suhu. Seresah adalah sisa jaringan tumbuhan baik berupa daun, ranting, cabang, maupun batang yang akan menjadi bahan organik serta mencirikan sifat tanah, berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah dan menyusun bahan material tanah. Seresah dapat digunakan apabila telah terjadi proses dekomposisi (perombakan). Sedangkan proses dekomposisi ini hanya merupakan mekanisme awal yang selanjutnya menentukan fungsi dan peran seresah dalam tanah .
Horison O adalah lapisan seresah bahan tumbuhan, terdiri atas bagian-bagianyang tampak masih utuh, sebagian terdekomposisi, dan lengkap terdekomposisi.Horison ini menumpang di permukaan tubuh tanah mineral.
Lapisan litter ( L ) pada lantai hutan mempunyai cirri-ciri: seresah yang baru jatuh, kandungan air masih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar.
Dari hasil yang didapat ketebalan hutan alam dan hutan pinus sangat berbeda, apalagi komposisi nya, dilihat dari banyaknya jenis fauna hutan alam yang banyak. Seresah banyaknya di hutan alam karena vegetasi yang sangat bervariasi yang mempengaruhi ketebalan seresah yang terkomposisi, hanya saja untuk terkomposisi butuh waktu yang lama karena cahaya matahari tidak sampai ke lantai hutan.
faktor-faktor yang mempengaruhi jatuhnya sersah antara lain:
1.Umur daun yang semakin tua 2.Iklim 3.Makhluk hidup. Bahkan tumbuhan itu sendiri mampu mengakibatkan laju jatuhan seresah. 4.Bencana alam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi seresah antara lain:
1.Sinar matahari menghambat proses dekomposisi tanah sebab menyebabkan dekomposer menjadi kering.
2.Waktu.
3.Mikroorganisme.
4.Iklim yang mempengaruhi humifikasi.
5.Topografi.
6.Bahan Induk.
Perbedaan akumulasi seresah pada penggunaan lahan yang berbeda terletak pada bahan organik dari tanaman atau tegakkan pada lahan tersebut. Karena bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan menjaga kondisi fisik lahan. Begitupun akumulasi seresah pada bahan hutan berbeda dengan akumulasi seresah pada lahan pertanian. Pada lahan hutan seresah yang dihasilkan cukup banyak dan lebih cepat terdekomposisi, sedangkan pada lahan pertanian atau perkebunan seresah lebih sedikit dan belum terdekomposisi secara sempurna. Bahannya sudah digarap untuk proses pertanian ataupun perkebunan selanjutnya.
Kelembaban dihutan lebih tinggi disbanding pada lahan pertanian atau perkebunan sehingga dekomposer dapat hidup dengan baik menyebabkan proses dekomposisi seresah lebih cepat. Dalam akumulasi seresah daun menduduki peringkat teratas dalam hal jumlah karena sebagian besar penutup hutan adalah luasan tajuk, sehingga komposisi seresah terbanyak adalah daun dari tingkat kedua biasanya ranting karena sejumlah daun jatuh bersama dengan rantingnya. Humus juga memiliki jumlah yang besar karena humus merupakan gabungan dari seresah-seresah yg asomaorf
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.Biomassa pada lantai hutan merupakan hasil aktifitas biologis yang terdapat pada lantai hutan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada praktikum ini diketahui bahwa biomassa lantai hutan terbesar adalah litter daun yaitu 816 kg/ha.
2.Lapisan tanah hutan dibagi menjadi tiga yaitu litter, fragmentasi (fermentasi 1 dan fragmentasi 2), dan humus. Tingkatan dekomposisi dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari, waktu, iklim, topografi, mikroorganisme, dan bahan induk.
3.Dalam lahan kehutanan biasanya alami tanpa campur tangan manusia sehingga akumulasi seresah stabil sedangkan pada lahan pertanian biasanya dibutuhkan campur tangan manusia sehingga penggunaan akumulasi seresah ada yang langsung dapat digunakan sebagai pupuk. 4.Pengambilan contoh tanah paling baik dilakukan dengan cara tidak terusik, hal ini dikarenakan agar tekstur tanah yang kita amati tidak rusak. Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan dengan sifat-sifat tanah yang akan kita amati.
5.2 Saran
Untuk praktikan saat pengambilan data diharapkan memperhatikan saat Co-ass nya menjelaskan, agar tidak ada keliruan saat mengelola data.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Cahyono. 2008.Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan.Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM.
Murayama, S. dan Zahari, A.B. 1992.Biochemical decomposition of tropical forest. In Proceeding of the International Symposium on Tropical Peatlandi. Serawak, Malaysia : Kuching.
Simon, H. 1988. Pengantar Ilmu Kehutanan.Yogyakarta : Bagian Penerbitan Fakultas Kehutanan UGM.
Siarudin, M. & Rahmat. E. 2008. Biomassa Lantai Hutan. Kawasan Hutan Mangrove. Jawa
Barat.
Thompson, L.M. dan F. R. Troeh. 1978. Soils & Soils Fertility. Mc Braw– Hill Pub.GE
ACARA III
DIAGRAM PROFIL TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari batuan induknya karna interaksi antara, hidrosfer,atmosfer,litosfer dan biosfer ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organic yang dalam keadaan padat,gas, dan cair. Jadi, tanah merupakan system tiga fase yaitu padat, cair dan gas yang selalu mengalami dinamisasi dalam kondisi seimbang. Dipandang dari segi pedology, tanah adalah suatu benda alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman.
Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup. Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk (regolit) menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain, sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah.
Dengan kata lain, profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah, dimulai dari permukaan tanah sampai lapisan bahan induk dibawahnya. Lapisan-lapisan tersebut terbentuk selain dipengaruhi oleh perbedaan bahan induk sebagai bahan pembentuknya, juga terbentuk karena pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan pengamatan profil tanah dalam langkah awal penelitian dan pengamatan terhadap tanah. Dari pengambilan sampel tanah yang dilakukan pada berbagai lapisan tanah tersebut kita dapat mengetahui karakteristik tanah, tekstur, warna, dan pH tanah.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa dapat mendiskripsikan perbedaan sifat-sifat tanah
dari satuan lahan yang berbeda.
. Agar mahasiswa dapat menguji sifat-sifat tanah dan ciri spesifik
suatu bentangan lahan.
Agar mahasiswa dapat mengetahui pengaruh faktor lingkungan
terhadap pembentukan tanah.
Agar mahasiswa dapat mengetahui sifat dan tanda-tanda khusus
suatu jenis tanah di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran tertentu dan kedalaman tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relative terhadap tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena adanya rongga-rongga udara.
Horizon tanah merupakan suatu lapisan tanah yang hampir sejajar dengan permukaan bumi yang merupakan hasil evolusi dan terdapat perbedaan sifat-sifat diantara horizon-horizon yang berbatasan (Henry D Foth, 1984).
Ada enam horizon dan lapisan utama dalam tanah yang masing-masing diberi symbol dengan satu huruf capital yaitu (dari atas ke bawah) O, A, E, B, C dan horizon yang berbentuk batuan atau horizon R (Harjowigeno, 2003). Horizon yang diberi simbol huruf besar dan kombinasi huruf tersebut merupakan simbol untuk horizon peralihan, sedangkan lapisan tanah yang terbentuk bukan karena proses pembentukan tanah (misalnya kerena proses pengendapan) diberi simbol angka romawi (I,II,III, dst)
Horizon O didominasi oleh bahan organic pecahan-pecahan mineral volumenya kecil dan beratnya biasa kurang dari separuhnya (Henry D Foth, 1984).
Asam organic dan CO2 yang diproduksi oleh tumbuhan yang membusuk meresap ke bawah horizon E atau zona pencucian (Elevasi). Pencucian mineral lempung dan terlarut ini dapat membuat horizon tanah berwarna pucat seperti pasir (Henry D Foth, 1985).
Horizon B atau zona akumulasi kadang agak melempung dan berwarna merah atau coklat karena akibat kandungan hematite dan lionitnya (Pairunan, 1985).
Horizon C merupakan suatu lapisan yang sukar dipengaruhi oleh proses-proses pembentukan tanah dan tidak memiliki sifat-sifat horizon lainnya (Henry D Foth, 1985).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Tes kit tanah lengkap.
Lembar pengamatan profil.
Alat tulis.
Profil tanah sepanjang bukit daun
Cara kerja
Memilih tempat yang tidak tergenang air, datar dan mewakili tempat
sekitarnya.
Menggali lubang untuk profil tanah dengan dinding di sebelah selatan,
ukuran panjang 1,5 m, lebar 1 m dan kedalaman 1 m. Tempat untuk
mengamati dibuatkan lubang bertangga. Profil tanah juga dapat
dibuat pada tebing yang dibuat tegak lurus.
Mencatat ciri-ciri morfologi di permukaan tanah sesuai dengan
formulir pelukisan profil.
Menandai perlapisan yang ada dengan garis yang tegas.
Mencatat ciri-ciri dakhil perlapisan sesuai dengan formulir yang ada.
Mengambil contoh tanah tiap lapisan dalam plastik yang beritiket :
Kode tempat, kode tanah, nomor lapisan, dan ciri-ciri
istimewa lainnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Diagram profil hutan alam
No
Horizon
1
O
2
A
3
B
Diagram profil hutan pinus
No
Horizon
1
A
2
E
3
AB
4
BA
5
B
Pembahasan
Diagram profil yang umum dilakukan adalah diagram profil vertical dan horizontal. Diagram profil vertical dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai stratifikasi dan struktur vegetasi hutan, sedangkan diagram profil horizontal dilakukan untuk mengetahui gambaran tutupan lantai hutan oleh kanopi pohon
Pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan ropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu:
Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C).
Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A).
Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati.
PH tanah juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik secara lansung berupa ion hydrogen sedangkan pengaruh tidak lansung yaitu tersedianya unsur-unsur hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran PH tanah mineral biasanya antara 3,5-10 atau lebih.sebaliknya untuk tanah gembur, PH tanah dapat kurang dari 3,0. Namun dari hasil pengamatan kami dengan menggunakan alat pengukur PH rata-rata hasilnya 3 lebih atau bisa karena adanya kesalahan alat dalam pegukuran.
Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga bebatuan induk (regolit) yang biasanya terdiri dari horizon O A E B C R. Horison tanah adalah lapisan tanah atau bahan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan berbeda dengan lapisan disebelah atas ataupun bawahnya yang secara genetik ada kaitannya.
Namun pada pengamatan yang telah dilakukan ditemukan ada empat jenis horizon yaitu O, A, B, C.Pengamatan propil tanah ini dilakukan untuk mengetahui jenis tanah yang terkandung, mengetahui umur tanah, sifat kimiawi tanah, dan yang paling penting adalah sebagai tempat media tumbuh untuk tegakan. Pada hutan alam ini masih terdapat horizon O dimana horizon ini terbentuk di atas lapisan tanah dan masih terlihat dengan jelas. Horizon A adalah horizon yang terdapat di permukaan tanah dan pencucian dari tanah liat. Horizon B merupakan bahan yang tercuci dari horizon A, pada horizon ini terdapat lempung sebagai hasil dari pelarutan karbonat dan garam.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa.
1. Tanah mempunyai karakteristik yang berbeda tiap jenisnya.
2. Karakteristik tanah dapat dibedakan dengan cara mengamati kedalaman lapisan tanah dan kedalaman perakaran tanah, tekstur dan struktur tanahnya.
3. Lapisan O memiliki kedalaman 0 – 20 cm. Lapisan A memiliki kedalaman 20 – 39 cm . lapisan B memiliki kedalaman 59 – 80 cm. Lapisan A merupakan lapisan yang ketebalannya paling tipis karena lapisan A hanyalah sebuah lapisan peralihan antara lapisan yang kaya akan humus dengan lapisan yang miskin akan humus.
5.2 Saran
hendaknya tersedianya alat laboratorium dan alat untuk ke lapangan harus lengkap
DAFTAR PUSTAKA
Foth, D Henry. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjamadah University:Yogyakarta.
Foth, H.D.dan L.N.Turk. 1999. Fundamentals Of Soil Science. Fifth Ed. John Waley & sons. New York.
Gliessman, R.Stephen.2000. AGROECOLOGY Ecological Processes in Sustainable Agriculture. CRC Press LLC., Florida
Guswono, S. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Kanisus Yogyakarta.
ACARA IV
KUALITAS KIMIA TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Segala kepentingan hidup di dunia tidak terlepas dari keperluan kita akan tanah. Tanah berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan di dunia, termasuk kehidupan manusia dan berbagai kehidupan yang menunjang hidupnya manusia. Oleh sebab itu tanah merupakan salah satu komponen alam yang mempunyai peran penting dalam proses kehidupan.
Tanah adalah sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan beragam yang berbeda yang terdiri dari butiran kerikil kasar, pasir, tanah lempung, tanah liat dan semua bahan lepas lainnya termasuk lapisan tanah paling atas sampai pada tanah keras. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu : iklim, makhluk hidup, bentuk wilayah, bahan induk dan waktu. Iklim dan makhluk hidup merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat aktif, sedangkan bentuk wilayah, bahan induk, dan waktu merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat pasif.
Jenis-jenis tanah mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda. Sifat dan karakteristik tanah dapat berupa sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah yang dapat diamati pada bagian terkecil tanah. Pedon adalah satuan individu terkecil tanah yang terbentuk dalam tiga dimensi. Pada bagian pedon dapat diamati lapisan-lapisan tanah yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah yang disebut dengan profil tanah.
Tanah dapat bermanfaat bagi manusia jika manusia dapat memeliharanya dengan baik. Namun tanah akan menjadi tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan sering menimbulkan ketidaktentraman jika manusia memperlakukannya tidak baik dengan memberikan tindakan dan perlakuan yang keliru.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui metode selidik cepat kualitatif terhadap 6
macam tanah yang tersedia
Agar mahasiswa terampil menguji tanah dengan metode selidik cepat
kualitatif di laboratorium.
Agar mahasiswa dapat membandingkan sifat-sifat utama tanah dari 6
contoh tanah.
Agar mahasiswa dapat memperkirakan proses-proses pedogenesa
yang mungkin terjadi dari sifat-sifat tanah yang diuji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah yang cukup dan komposisis yang ideal merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman. Oleh karena itu pada tanah-tanah yang mengalami kendala penyediaan hara, perlu dilakukan manipulasi lingkungan tumbuh tanaman untuk memperbaiki sifat kimia tanah tersebut (Anonim,2007).
Perubahan sifat kimia menyebabkan ketersediaan hara dalam tanah menjadi lebih baik atau berada dalam kategori sedang. Keadaan ini diharapkan memberikan pengaruh yang positif bagi pertumbuhan tanaman. Perbaikan sifat kimia tanah memberikan petunjuk bahwa jenis dan dosis pupuk yang diberikan dapat menjamin pasokan dan ketersediaan hara bagi tanaman (Masganti et al. 2005).
Pengendalian gulma selain menyebabkan perbaikan terhadap sifat kimia juga meningkatkan Kadar C organik dalam tanah karena hara pada tanah yang bertopografi bergelombang berkurang akibat terbawa aliran permukaan dan erosi (Sutono et al. 2005).
pH tanah atau kemasaman tanah atau reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H +) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain ion H+ dan ion-ion lain terdapat juga ion hidroksida (OH-), yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dibandingakan dengan jumlah ion OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan ion OH- lebih banyak dari ion H+. Jika ion H+ dan ion OH- sama banyak di dalam tanah atau seimbang, maka tanah bereaksi netral. Reaksi tanah adalah derajat kesaman tanah yang terdapat di larutan tanah Tinggi rendahnya reaksi tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah.Selain itu,kedaan musim,tindakan cocok tanam ,tempat pengambilan contoh,dan cara pengukuran tanah akan mempengaruhi nilai pH tanah (Ahmat 2006).
Tingkat pH tanah yang merugikan pertumbuhan tanaman dapat terjadi secara alami di beberapa wilayah, dan secara non alami terjadi dengan adanya hujan asam dan kontaminasi tanah. Peran pH tanah adalah untuk mengendalikan ketersedian nutrisi bagi vegetasi yang tumbuh diatasnya. Makronutrien(kalsium, fosfor, nitrogen, kalium, magnesium, sulfur) tersedia cukup bagi tanaman jika berada pada tanah dengan pH netral atau sedikit beralkalin. Kalsium, magnesium, dan kalium biasanya tersedia bagi tanaman dengan cara pertukaran kation dengan material organik tanah dan partikel tanah liat. Ketika keasaman tanah meningkat, ketersediaan kation untuk material organik tanah dan partikel tanah liat segera tercukupi sehingga tidak ada pertukaran kation dan nutrisi bagi tanaman berkurang. Namun semua itu tidak dapat disimplifikasi karena banyak faktor yang memengaruhi hubungan pH dengan ketersediaan nutrisi, diantaranya tipe tanah (tanah asam sulfat, tanah basa, dsb), kelembaban tanah, dan faktor meteorologika (Darmawijaya M Isa 2000)
Ada 2 metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran pH tanah yaitu kertas lakmus dan pH meter. Kertas lakmus sering di gunakan di lapangan untuk mempercepat pengukuran pH. Penggunaan metode ini di perlukan keahlian pengalaman untuk menghindari kesalahan. Lebih akurat dan secara luas di gunakan adalah penggunaan pH meter, yang sangat banyak di gunakan di laboratorium. Walaupun pH tanah merupakan indikator tunggal yang sangat baik untuk kemasaman tanah, tetapi nilai pH tidak bisa menunjukkan berapa kebutuhan kapur. Kebutuhan kapur merupakan jumlah kapur pertanian yang dibutuhkan untuk mempertahankan variasi pH yang di inginkan untuk sistem pertanian yang digunakan. Kebutuhan kapur tanah tidak hanya berhubungan dengan pH tanah saja, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menyangga tanah atau kapasitas tukar kation (KTK) (Susanto 2002).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Larutan H2O2 10 %.
Larutan HCL 2N atau 10 %.
29
Larutan K3Fe(CN)6 0,5%
Larutan KCNS 10%
Larutan a a dipiridil
Larutan NaOH 40 %
Larutan H2O2 3 %.
Soil Munsell Colour Chart
Kertas HVS/kertas saring
3.3 Cara kerja
3.3.1 Penentuan Bahan Organik
1. Mengambil sebongkah tanah, kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikala H2O2 10 %.
4. Mengamati pembuihan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya buih antar sampel
3.3.2 Penentuan Kapur (CaCO3)
1. Mengambil sebongkah tanah, kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas yang kering (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia HCL 2N atau 10 %.
4. Mengamati percikan dan suara desis pada tanah yang ditetesi.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik dan kerasnya desis antara
sampel contoh tanah yang satu dengan yang lainnya. Yang memercik
banyak dan bersuara desis lebih keras diberi tanda (+) lebih banyak,
dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.3Penentuan Ferro dan Ferri
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kemikalia HCL 2N kemudian dengan
K3Fe(CN)6 0,5% untuk menguji Ferro ( Fe2+ ) dan dengan KCNS 10%
untuk pengujian Ferri (Fe3+).
4. Mengamati, warna pengujian ferro adalah biru, dan warna pengujian
ferri adalah merah
5. Penafsiran hasil :
- Hanya timbul warna merah : suasana oksidatif (oksik)mutlak (O3)
- Merah nyata disertai hijau : suasana oksik kuat (O2)
- Merah nyata disertai biru : suasana oksik sedang (O1)atau reduktif (anoksik)
sedang (R1)
- Biru nyata disertai merah jambu : suasana anoksik kuat (R2)
- Hanya timbul warna biru nyata : suasana anoksik mutlak (R3)
Catatan :
Larutan K3Fe(CN)6 0,5% berwarna kuning sehingga warna kuning saja
bukan warna reaksi ferro. Reaksi ferro lemah menimbulkan warna hijau
karena biru campur kuning menjadi hijau.
3.3.4. Pengamatan Gleisasi
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas yang kering (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia HCL 2N atau 10 %, kemudian dengan alfa-alfa dipiridil.
4. Mengamati warna merah di sebalik kertas yang berisi tanah teruji.
5. Mencatat perbandingan intensitas warna merah antara sampel yang satu dengan yang lainnya. Yang kuat diberi tanda positif (+) , dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-)
Keterangan :
alfa alfa dipiridil adalah zat beracun, maka harus dijaga jangan sampai terhisap atau terkena kulit
3.3.5 Pengamatan Si
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia NaOH 40 %.
4. Mengamati percikan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik antara sampel contoh tanah yang satu dengan yang lainnya. Yang kuat diberi tanda (+) lebih banyak, dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.6Penentuan Mn
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring).
3. Menetesi tanah dengan kemikalia H2O2 3%.
4. Mengamati percikan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik antara sampel contoh tanah yang satu dengan yang lain. Yang kuat diberi tanda positif (+), dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.7 Penentuan warna tanah
1. Mengambil sebongkah tanah lembab.
2. Membandingkan tanah dengan warna tanah pada Soil Munsell Colour
Chart.
3. Mencatat sebutan dan nilai warna kuantitatifnya (Hue, Value dan
Chromanya).
4. Apabila ada bercak tanah maka dicari warna matrik (utama) dahulu
baru warna bercaknya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
O
A
B
1.
Bahan organik
2.
pH
6
6
6
Hutan pinus
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
A
E
AB
BA
B
1.
Bahan organik
+
+
+
+
-
2.
pH
6,1
6,2
6,3
7,5
7,5
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, masam. Hal ini ditunjukkan dengan PH sampel tanah yang berada di bawah 7. Tanah masam adalah tanah yang memilki nilai PH kurang dari 7 baik berupa lahan kering maupun lahan basah. Kemasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hydrogen ditanah tersebut. Bila kepekatan ion hydrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan akan bereaksi asam,sebaliknya bila kepekatan hodrogen terlalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH lebih tinggi dari ion H+.
Tanah bereaksi masam (PH rendah) adalah tanah kekurangan kalsium (caO) dan magnesium (MgO) yang disebabkan oleh curah ujan tinggi, pupuk pembentuk asam,drainase yang kurang baik, adanya unsur-unsur yang berlebihan (Al,Fe, dan Cu) dan proses dekomposisi bahan organic. PH tanah begitu berpengaruh semasa pertumbuhan vegetasi tanaman. Pengukuran dan pendektesi PH sangat penting karena dapat membantu kita untuk mengelola tanah dengan baik sehingga tanaman bisa tumbuhan dengan subur dan sempurna, jika tanah terlalu masam maka akan menyebabkan kerusakan pada akar sehingga menurunkan kualitas dan hasil panen. Sedangkan jika PH tanah terlalu basa akan menyebabkan tingginya kandungan alkali pada tanah terlalu basa akan mennghambat laju pertumbuhan tanaman.
PH tanah juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik secara lansung berupa ion hydrogen sedangkan pengaruh tidak lansung yaitu tersedianya unsur-unsur hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran PH tanah mineral biasanya antara 3,5-10 atau lebih.sebaliknya untuk tanah gembur, PH tanah dapat kurang dari 3,0. Namun dari hasil pengamatan kami dengan menggunakan alat pengukur PH rata-rata hasilnya 3 lebih atau bisa karena adanya kesalahan alat dalam pegukuran.
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi pH tanah melalui dua cara yaitu : pengaruh langsung ion hidrogen dan pengaruh tidak langsung yaitu tidak tersedianya unsur hara tertentu dan adanya unsur hara yang beracun.
Dari berbagai hasil penelitian di amerika latin dan puerto rico diketahui batas maksimum pH tanah kapur ( adam dan pearson , 1967 ) .batas pH yang dimaksud menunjukan bahwa diatas pH ini tanamanyang bersangkutan tidak lagi memerlukan kapur. Sebaliknya bila pH tanah dibawah nilai ini pertumbuhannya akan terganggu jika tidak diberi kapur.
Kebanyakan tanaman toleran pada pH yang ekstrim, tinggi dan rendah , asalkan dalam tanah tersebu tersedia hara yang cukup . sayangnya tersedianya unsur hara yang cukup itu dipengaruhi oleh pH . beberapa unsur hara tidak tersedia pada pH ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat meracun .
Perharaan yang sangat dipengaruhi oleh pH antara lain adalah :
a. Kalsium dan magnesium dapat ditukar
b. Alumunium dan unsur mikro
c. Ketersediaan fosfor
d. Perharaan yang bersifat atau berkaitan dengan kegiatan jasad mikro.
BAB V
PENUTUP
Dari praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ph tanah tepatnya ph larutan tanah sangat penting karena larutan tanah banyak mengandung unsur hara,dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh.
Nilai ph tanah di alam berbeda-beda pada setiap lokasi.Nilai ph tanah ditentukan oleh beberapa faktor,seperti:
1.kondisi musim setiap tahunnya.
2.cara bercocok tanam.
3.cara pengambilan sampel tanah
4.kandungan air pada saat pengambilan sampel.
5.metode pengukuran ph yang digunakan.
Selain itu juga,faktor-faktor yang menentukan ph tanah adalah pencucian kation basa dan vegetasi atau tanaman yang tumbuh di atas permukaan tanah.Sedangkan untuk penentuan Al-dd dan H-dd dilakukan dengan pengambilan sampel tanah sebagai objek penelitian merupakan tanah yang mengandung Aluminium dan Hidrogen karena hasil pengamatan sesuai dengan teori yaitu saat di titrasi warnanya berubah.Kandungan Al dan H tinggi dapat bersifat racun dan meracuni tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.
Saran
Dalam pelaksanaan praktikum di sarankan kepada praktikan melakukannya dengan hati-hati,seperti dalam melakukan ph meter, serta prosedur-prosedur lainnya.Hati-hati dalam bekerja karena menggunakan peralatan yang mahal dan mudah pecah.Selain itu sikap disiplin dan teliti juga sangat diperlukan.
.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2007. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UNS.
Surakarta.
Bailey 2001. Pengantar ilmu Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.
Darmawijaya M Isa 2000. Klasifikasi Tanah. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Hakim Nurhayati et al. 2003. Dasar – Dasar Ilmu Tanah.Universitas Lampung. Lampung.
Handayani 2009. Dasar-Dasar Klasifikasi Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Jangka Panjang.Tahun 1. Jurnal Tanah Tropika No.12 Volume 3. Jurusan Ilmu Tanah Faperta Universitas Lampung. Lampung.
ACARA V
KUALITAS FISIKA TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
. . Tanah seperti kita telah ketahui tesusun dari bahan anorganik (mineral) dan bahan organik. Selain kedua bahan tersebut di dalam massa tanah terdapat dua bahan lainya yaitu air dan udara. Dengan demikian dapat pla kita katakana bahwa tanah terdiri dari 3 fase yaitu fase padat, cair dan gas. Fase padat yaitu bahan mineral dan bahan organik menempati 50% volume tanah, sedangkan sisanya yang berupa rang pori-pori tanah ditempati oleh fase cair dan gas yang perbandinganya selalu beubah- ubah tergantung pada musim dan cara pengelolaan tanah. Adapn perandingan bahan mineral dan bahan organik juga bervariasi. Pada tanah mineral jumlah bahan mineral lebih besar daripada bahan organik, tetapi pada tanah organik terjadadi sebaliknya.
Sifat-sifat fisika tanah adalah sifat-sifat tanah yang ditentukan oleh bahan penyusunya. Sifat-sifat fiska tanah ini sangat penting untuk anada ketahui, karena memiliki pengarh yang besar terhadap pertumbuhan dan prodksi tanaman yang tumbuh di ats tanah tersebut. Sifat-sifat fisika tanah mempengaruhi ketersediaan air di daam tanah, menentukan penetrasi (penembusan) akar di dalam tanah, sifat drainase dan aerasi tanah, serta ketersediaan nsur-nsur hara tanaman. Sifat-sifat fisika tanah juga mempengaruhi sifat-sifat kimia dan biologi tanah.
Tujuan
Menetapkan batas lekat tanah (BL).
2. Menetapkan batas gulung tanah (BG).
3. Menetapkan batas berubah warna tanah (BBW).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sifat – sifat fisika tanah terdiri dari :
1.Batas - batas horison, dalam pengamatan tanah di lapangan ketajaman peralihan horison – horison ini diberikan kedalam beberapa tingkatannya yaitu ( lebar peralihan kurang dari 2,5 cm dan berangsur )
2.Warna tanah merupakan petunjuk beberapa sifat tanah karna warna tanah menunjukan apabila makin tinggi bahan organik, warnah tanah semakin gelap. Di daerah berdrainase buruk yaitu daerah yg selalu tergenang air seluruh tanah berwarna abu-abu karna senyawa Fe terdapat dalam keadaan reduksi. Pada tanah yang berdrainase baik yaitu tanah yang tidak pernah terendam air Fe terdapat dalam keadaan oksidasi.
3.Tesktur tanah, tekstur tanah menujukkan halus kasarnya tanah dari fraksi tanah halus (2mm). Tanah dikelompokkan kedalam beberapa tekstur tanah yaitu: kasar, agak kasar, sedang, agak halus dan halus.
4.Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir butir tanah . Struktur ini terjadi karena butir butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik oksida besi dan lain lain.
5.Konsistensi menunjukkan kekuatan daya kohesi butir – butir tanah dengan benda lain. Tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah di olah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.
6.Drainase tanah. Klas drainase ditentukan dilapangan dengan melihat adanya gejala gejala pengaruh air dalam penampang tanah.
Bulk density (kerapatan lindat). Menunjukan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori – pori tanah. Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah (Hardjowigeno, 1987).
Contoh tanah adaah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan sifat-sifat yang akan diteliti. Sifat-sifat fisika tanah, dapat kita analisis meaui dua aspek, yaitu disperse dan fraksinasi. Untuk mencari atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan 3 cara yaitu : pengambilan dalam keadaan agregat tidak terusik, pengambilan tanah tidak terusik dan pengambilan tanah terusik (Agus, 1998).
Agregat-agregat dalam tanah selalu dalam tingkatan perubahan yang continue. Pembasahan, pengeringan, pengolahan tanah, dan aktivitas biologis semuanya berperan di dalam pengrusakan dan pembangunan agregat-agregat tanah.Struktur lapisan oleh lapisan olah dipengaruhi oleh pengolahan praktis dan dimana aerasi dan drainase membatasi pertumbuhan tanaman, sistem pertanaman yang mampu menjaga kemantapan agregasi tanah akan memberikan hasil yang tinggi bagi produksi pertanian (Hakim, 1986).
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antar agregat. Tanah tersusun dari tiga fase yaitu : fase padatan, fase cair, dan fase gas. Fase cair dan gas mengisi ruang antar agregat. Stuktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusunnya. Ruang antar agregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi perakaran apabia pori berukuran besar terisi air. Tanah yang gembur memiliki agregat yang cukup besar. Tanah menjadi liat apabila berlebihan lempung, sehingga kekurangan makropori (Subagyo, 1970).
Fraksinasi adalah penganalisisan sifat-sifat fisika tanah dengan cara memisahkan butir-butir primer tersebut. Untuk mencari dan atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan pengambilan tanah tidak terusik, terusik, dan agregat tidak terusik (Soegiman,1982).
Tekstur tanah dipengaruhi oleh faktor proses pembentukan tanah tersebut, faktor pembentukan tanah yang penting antara lain adalah bahan induk tanah. Bahan induk bertekstur kasar cenderung menghasilkan tanah bertekstur kasar dan sebaliknya (Hardjowigeno, 2003).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Cara kerja
BATAS LEKAT TANAH (BL)
Alat dan Perlengkapan :
Sebuah colet yang mengkilat bersih dan permukaanya rata (sebaiknya
dari nikel), 2 buah penimbang, sebuah botol pemancar air, sebuah
timbangan analitis (teliti sampai 0,0001 g) sebuah dapur pengering, sebuah
eksikator.
Bahan : Pasta tanah sisa acara batas cair tanah.
Cara Kerja :
1. Mengambil sisa pasta tanah acara BT, gumpalkan dalam tangan dan tusukkan colet ke dalamnya sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 1 cm/detik. Dapat juga dijalankan dengan menggumpal-gumpalkan pasta dengan ujung colet sepanjang 2,5 cm ada didalamnya dan kemudian colet ditarik secepat 0,5 detik.
2. Memeriksa permukaan colet :
a. Bersih, tidak ada tanah lebih kering dari BL.
b. Tanah atau suspensi tanah melekat, berarti pasta tanah lebih basah dari BL.
3. Tergantung dari hasil pemeriksaan dalam langkah ke-2 pasta tanah dibasahi atau dikurangi kelembabannya, dan langkah ke-1 diulangi lagi sampai dicapai keadaan di permukaan colet di sebelah ujungnya melekat suspensi tanah seperti dempul sepanjang kira-kira 1/3 x dalamnya penusukan (kira-kira 0,8 cm).
4. Mengambil tanah sekitar tempat tusukan sebanyak kira-kira 10 g dan tetapkan kadar lengasnya seperti dalam acara kadar lengas.
5. Mengerjakan lagi langkah-langkah ke-1 s/d ke-4 sebagai duplo. Hasil duplo dengan yang pertama tidak bolah berselisih lebih dari 1%. Kalau lebih, harus diulangi lagi sampai diperoleh 2 pengamatan yang selisihnya tidak lebih dari 1%.
Perhitungan : Dari pengamatan itu hitunglah kadar lengas rata-ratanya
dan ini adalah BL-nya.
Catatan : Kecepatan penusukan-penarikan colet penting karena kecepatan pergeseran dapat mempengaruhi kemungkinan tanah melekat di p
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
O
A
B
1
Ketebalan (cm)
2
Kelas tekstrur
3
Struktur
4
Warna
5
Plastisitas
6
Batas lekat
7
Kadar lengas
8
Berat volume
9
Kelembaban
2
5,5
4,5
Hutan pinus
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
A
E
AB
BA
B
1
Ketebalan (cm)
12
10
8
13
57
2
Kelas tekstrur
Geluh pasiran
Geluh pasiran
Geluh
Geluh
Lepung
3
Struktur
Debu pasir liat
Debu pasir liat
Debu pasiran
Debu pasiran liat
Liat
4
Warna
Gray
Gray
Yellow redis
Yellow redis
Yellow redis
5
Plastisitas
Agak plastis
Agak plastis
Sedang
Sedang
Plastis
6
Batas lekat
7
Kadar lengas
8
Berat volume
9
Kelembaban
6,7
6,3
6,1
5,8
5,3
4.2 Pembahasan
Pengamatan pada profil tanah di lapangan merupakan cara untuk menentukan sifat-sifat fisika tanah,dimana hanya dengan mengamati sifat-sifat fisika tanah kita mengklasifikasikan tanah kedalam suatu kelas tanah.Sifat-sifat tanh yang diamati yaitu tekstur,struktur,dan warna tanah.
Pada pengamatan tanah dengan indra,warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah,diantaranya yaitu kandungan bahan organic,drainase.Warna tanah sangat mempengaruhi oleh kadar lengas didalamnya.Tanah yang kering warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang basah,ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan pada hutan pinus didapat hasil warna tanah diantaranya:
1.Sampel tanah A =Gray
2.Sampel tanah E = Gray
3.Sampel tanah AB = Yellow redish
4.Sampel tanah BA = Yellow redish
5.Sampel tanah B = Yellow redish
Tekstur tanah
Ada tiga macam tanah yang utama yaitu lempung,pasir,dan geluh.Tanah dikatakan pasir apabila kandungan pasirnya 70%,sedangkan lempung apabila kandungan litany lebih dari 35%,jika suatu fraksi liat ataupun pasir,maka itu fraksi debu/geluh.Penetapan tekstur tanah ada 2 yaitu penetepan di Laboratorium dan penetapan di Lapangan.Pada percobaan yang kami lakukan kami melakukan penetapan tekstur lapangan,dan menurut hasil yang kami dapatkan diantaranya:
1.Sampel tanah A =Geluh pasiran
2.Sampel tanah E = Geluh pasiran
3.Sampel tanah AB = Geluh
4.Sampel tanah BA = Geluh
5.Sampel tanah B = Lempung
Pada penentuan tekstur ini data yang kami buat error karena kurangnya pemahaman saat membaca metode kerja pada buku penuntun dan ketlitian pada saat melakukan percobaan
Sifat fisik tanah yang paling mudah ditentukan yaitu dari warna tanah,karena dari warna tanah kita sudah mengetahui tingkat kesuburan dari tanah,tingkat drainase dan aerase tanah,tingkat perkembangan tanah,dan menentukan jenis dan kadar BO pada tanah.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pertumbuhan. Tanah bersifat dinamis, dimana tanah mengalami perkembangan setiap waktunya. Karakteristik tanah di setiap daerah tentunya berbeda dengan daerah lainnya. Tanah dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimilikinya. Data yang diperlukan untuk klasifikasi tanah adalah data mengenai sifat-sifat tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan tanah atau yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. Pengambilan contoh tanah dilakukan untuk menentukan sifat-sifat tanah, Sifat fisik yang paling jelas dan yang paling mudah ditentukan adalah warna tanah dimana warna tanah dapat digunakan untuk ; tingkat kesuburan dari tanah,tingkat drainase dan aerase tanah,tingkat perkembangan tanah,dan menentukan jenis dan kadar BO pada tanah.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam pengamatan profil tanah dilakukan dengan hati-hati dan lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan pada pembuatan data nantinya
DAFTAR PUSTAKA
.
Dargunoglu, H.T.,and J.K. Mitchell. 1975a. Static Penetration Resistencr of Soil; I. Analyses.p.151-171.In Proc.Conf.on In Situ Measurement of Soil Properties. Vol. I Am. Civil Eng. New York.
Dargunoglu, H.T.,and J.K. Mitchell. 1975a. Static Penetration Resistencr of Soil; II. Evaluation of Theory and Implication for Practices.p. 172-189. In Proc. Conc. On In Situ Measurement of Soil Properties. Vol I Am. Civil Eng. New York.
Hardjowigeno, Sarwono.1987.Ilmu Tanah.Rineka Cipta: Jakarta
Kurnia, Undang et al. 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Agro Inovasi. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian
Lowery,B., and R.T Schuler. 1994. Duration and Effect of Compaction On Soil and Plant Growht in Winconsin. Soil Tillage. Res. 29; 205-210.
Splanger.M.G, and R. L. Handy. 1982. Soil Engingering. 4th Ed. Harper and Row Publ. Harper and Row Publication.
Vepraskas,M.J.1984. Cone Index of Loamy Sands as Influenced by Pore Size Distribution an Effective Stress. Soil Scie.Soc. Am. J. 48 : 1.220-1. 225.
Dokumentasi
ILMU TANAH HUTAN
Nama : FARHAN REZA PAHLEVI
NPM :E1B01733
Program Studi :Kehutanan
Hari/tanggal :Minggu , 20 Mei 2018
Nama Dosen : Ir Edi Suharto M.P
Nama Asisten :1.Aris Firnandes (E1B014021)
:2.Lista Siboro (E1B014069)
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018
ACARA I
SUSUNAN VEGETASI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Vegetasi tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
Studi struktur dan klasifikasi komunitas tumbuhan (vegetasi) disebut juga fitososiologi, analisis vegetasinya disebut analisis vegetasi yang dapat secara kualitatif dan kuantitatif . Karena ada hubungan yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas disuatu lingkungan bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi dipermukaan bumi menunjukan pola diskontinyu. Seringkali sustu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik, kimia maupun biotik disuatu habitat cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas. Komunitas mempunyai beberapa kekhususan yaitu :
Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tetumbuhan secara vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan. Stratifikasi di hutan tropis umumnya terdiri dari lima lapisan atau stratum yaitu stratum A (strata emergent) yaitu lapisan tajuk hutan yang tingginya lebih dari 30 m, stratum B (strata kanopi) yaitu lapisan tajuk kedua dari atas yang tingginya mencapai 20 - 30 m, stratum C (strata subkanopi) yaitu lapisan tajuk ketiga dari atas yang tingginya mencapai 4 - 20 m, stratum D (strata understory) yaitu lapisan tajuk keempat dengan ketinggian 1 - 4 m, dan stratum E (lantai hutan/ ground) yaitu lapisan kelima yang tingginya 0 - 1 m (Indriyanto, 2006). Pada dasarnya strata pada pohon akan ditempati oleh satwa yang berbeda - beda, hal itu dipengaruhi oleh ketersedian sumberdaya dari masing-masing strata
Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan:
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput atau alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara “random sampling” hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systematic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu. Karena titik berat analisis vegetasi terletak pada komposisi spesies, maka dalam menetapkan besarnya atau banyaknya petak-petak sampling perlu digunakan suatu kurva (lengkung) spesiesnya. Kurva spesies tersebut diperlukan untuk:
1. Luas atau besar minimum suatu petak yang dapat mewakili tegakan.
2. Jumlah minimal petak-petak sampling kecil yang diperlukan agar hasilnya mewakili tegakan.
Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis vegetasi dan untuk mengetahui dominasi, kerapatan, dan frekuensi jenis vegetasi hutan alam maupun hutan pinus
2. Mahasiswa mampu menguraikan dominasi kerapatan dan frekuensi jenis vegetasi hutan alam dan juga hutan pinus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Vegetasis dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi spesies dan bentuk struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diamati adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman, 2001).
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi spesies dan bentuk struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan contoh, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam contoh ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Irwanto, 2010). Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitattertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990). Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan signifikan karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Vegetasi dalam artian lain merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur
(Natassa dkk, 2010).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Pita ukur
Meteran
Tali rapia
Pisau
Alat tulis
3.3 Cara kerja
Menentukan lokasi studi dan menentukan batas-batasnya.lokasi studi dapat berupa rerumputan,sesemaka,perdu,dan pepohonan ,daerah tersebut dibatasi
Menentukan luas tiap plot yaitu 20x20 m, 10x10 m dan 1x1 m
Melakukan pengamatan jumlah spesies dan jumlah individu tiap plot
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No
Variabel
Jumlah jenis pohon
Pohon
Tiang
Pancang
Semai
1
Vegetasi pohon
12
-
12
-
2
Vegetasi tumbuhan bawah
-
-
-
16
Hutan pinus
No
Variabel
Jumlah jenis pohon
Pohon
Tiang
Pancang
Semai
1
Vegetasi pohon
18
-
6
-
2
Vegetasi tumbuhan bawah
-
-
-
8
4.2 Pembahasan
Luas plot 20x20 M = 0.06 Ha
Dalam praktikum kali ini kami melihat vegetasi di hutan alam dan hutan pinus, adapun salah satu faktor penyusun hutan alam adalah vegetasi.Vegetasi merupakan suatu kumpulan dari berbagai macam tumbuhan yang hidup bersama di suatu tempat. Vegetasi selalu dinamis dan selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling), permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling), permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles), pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Untuk keperluan analisa vegetasi perludibedakan tingkat pertumbuhn tanaman adalah sebagai berikut :
Tingkat semai (sedling) yaitu tumbuhan dari mulai kecambah sampai 1,5 meter.
Tingkat pancang (sapling) yaitu permudaan yang tinggia lebih dari 1,5 meter, dengan diameter tumbuhan kurang dari 10 cm.
Tingkat tiang (pole) yaitu pohon muda yang memiliki diameter pohon 10-20cm.
Pohon dewasa (tree) yaitu pohon yang memiliki diamter lebih dari 20cm.
Hutan alam dan hutan pinus sangat berbeda, hutan alam yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, dan memiliki berbagai jenis pohon campuran dan dari segala umur. Sedangkan hutan pinus adalah tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga pinus, hutan pinus biasanya senagaja di budidayakan untuk memanfaatkan kayu dan getahnya, serta konservasi lahan.
Berdasarkan hasil pencuplikan pengamatan vegetasi dengan menggunakan metode plot 20 x20 meter, ditemukan jenis pohon yang dominan di setiap titik pengamatan yaitu jenis Pinus, jenis Ficus sedangkan . Kelimpahan jenis dalam hutan Pinus dan hutan alam di taba Penanjung secara deskriptif (penafsiran kualitatif) dapat dikelompokan menjadi kelompok heterogen rapat dan kelompok heterogen jarang. Sedangkan bentuk pertumbuhan vegetasi dalam kawasan terdiri dari tumbuhan berkayu dan pohon tinggi lebih dari 30 cm, tumbuhan berkayu dan semak kecil yang tingginya kurang dari 30 cm dan tumbuhan golongan rerumputan dan herba.
Praktikum analisis vegetasi hutan alam dilakukan dengan pembuatan dua petak ukur 20 kali 20 meter. Pada peta tersebut diukur pohonnya meliputi tinggi dan diameternya. Data yang didapatkan selanjutnya diolah untuk mendapatkan LBDS atau luas bidang dasar dan menghitung dominasi maupun dominasi relatifnya. Setelah itu, menghitung kerapatan dan kerapatan relatif nya. Hingga frekuensi dan frekuensi relatifnya. Dominasi dari petak yang ada relatif rendah karena tidak hanya didominasi oleh satu jenis tanaman saja.
Data yang didapatkan dari lokasi menunjukkan keadaan yang baik dengan indeks nilai penting sebesar 240 7%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat suatu jenis tanaman yang mendominasi namun angkanya tidak terlalu besar. Pohon yang mendominasi adalah pasang merah karena keberadaannya pada peta ukur tersebut cukup banyak.
Penghitungan IS atau kesamaan komunitas menghasilkan data sebesar 85,71%. Artinya keadaan tegakan memiliki kesamaan yang tinggi. Nilai tersebut menunjukkan bahwa antara kondisi primer dan setelah ditebang dari segi individu atau kerapatan memiliki tingkat kesamaan sekitar 85,71% artinya setelah dilakukan penebangan telah terjadi kehilangan jumlah individu sebesar 14,29% kesamaannya dari sebelum dilakukan penebangan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari hasil praktikum ini bahwa:
1. Analisis vegetasi dapat dilakukan dengan pembuatan plot yang berukuran 20x20 meter
2. Dominasi adalah tingkat dominan suatu jenis terhadap jenis lainnya di dalam suatu luasan atau suatu kawasan
3. Semakin rendah nilai dominasi maka keragaman dari jenis tanaman semakin tinggi
5.2 Saran
Untuk praktikan saat pengambilan data diharapkan memperhatikan saat Co-ass nya menjelaskan, agar tidak ada keliruan saat mengelola data
DAFTAR PUSTAKA
Irwanto. (2010). Analisis Vegetasi Parameter Kuantitatif (online): http://www.irwanto shut.net.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA. Malang.
Setiadi. 1984. Ekologi Tropika. ITB. Bandung
Natassa, dkk. 2010. Analisa Vegetasi dengan Metode Kuadran.
ACARA II
LANTAI HUTAN
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lantai hutan merupakan tempat terjadinya pembusukkan. Dekomposisi atau pembusukkan adalah proses ketika makhluk-makhluk pembusuk seperti jamur dan mikroorganisme pengurai tumbuhan dan hewan yang mati dan mendaur ulang material-material serta nutrisi-nutrisi yang berguna. Kawasan hutan dengan serasah yang menutupi tanah diareal itu berfungsi sebagai spons yang akan menahan air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Air hujan yang tertahan diserasah ini lalu meresap kedalam tanah
Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekologi. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi .Dekomposisi serasah adalah salah satu dari tingkatan proses terpenting daur biogeokimia dalam ekosistem hutan
Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan berbagai ekosistem mangrove dan sebagai sumber detritus bagi tanaman pada tingkat semai, serasah dapat menciptakan lingkungan mikro setempat berbeda dengan pelepasan nutrisi atau campuran phytotoxic selama pembusukannya, mengurangi erosi lahan dan evapotranspiration (tetapi mungkin juga menahan curah hujan) dan mengurangi temperatur tanah maksimum. Serasah juga dapat bertindak sebagai suatu faktor mekanik, merusakkan atau membunuh semai ketika gugur ke tanah. Disana dapat juga terjadi efek tidak langsung pada serasah daun, sebagai contoh, kelembaban yang lebih tinggi di dalam lapisan serasah dapat menunjang pertumbuhan jamur patogen yang dapat kemudian menyerang semai.
Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui biomassa lantai hutan.
Agar mahasiswa mengetahui perlapisan lantai hutan dan tingkat
dekomposisinya.
Agar mahasiswa mengetahui karakteristik tanah dan lantai hutan
apabila dibandingkan dengan tanah pertanian.
Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan contoh tanah
yang tepat dan mewakili satuan tanah teruji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah hutan terjaga kesuburannya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah bagian-bagian tanaman yang jatuh ke tanah, mati, dan diuraikan oleh organisme. Daun, ranting, cabang, buah, maupun batang merupakan bahan yang apabila terdekomposisi akan tereleminasi menjadi unsur yang siap digunakan oleh tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi tanah antara lain adalah lingkungan organisme pengurai, kelembaban, aerasi, pH tanah, dan juga temperatur atau suhu. (Cahyono, 1998)
.Horison O adalah lapisan seresah bahan tumbuhan, terdiri atas bagian-bagian yang tampak masih utuh, sebagian terdekomposisi, dan lengkap terdekomposisi. Horison ini menumpang di permukaan tubuh tanah mineral (Simon, 1988).
Lapisan litter ( L ) pada lantai hutan mempunyai cirri-ciri: seresah yang baru jatuh, kandungan air masih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar. F1 (Fragmentasi 1) mempunyai cirri-ciri: seresah yang mulai terdekomposisi, bentuk sudah tidak utuh, bentuk seresah asli masih keliatan, warna kecoklatan, masih merupakan satuan seresah tunggal. F2 (Fragmentasi 2) mempunyai ciri-ciri: berupa seresah yang terdekomposisi lanjut, bentuk asli sudah tidak keliatan lagi tapi masih bisa dibedakan jenis seresah, warna kecoklatan, saling lengket. Mempunyai ciri-ciri berupa seresah-seresah yang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak keliatan lagi, waran kehitaman, bentuknya remah, gembur. Lapisan H (Humus) yang mempunyai ciri-ciri: berupa seresah mbur dalayang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak kelihatan lagi, warna kehitaman, struktur remah dan gembur. (Cahyono, 2008).
Bahan serasah yang mempunyai nisbah C/N yang tinggi lebih sulit terdekomposisi dibandingkan dengan bahan serasah yang mempunyai nisbah C/N rendah (Murayama & Zahari, 1992 ). Akumulasi seresah bergantung pada tingkat penambahan seresah dan tingkat yang terdekomposisi. Bahan organik memainkan peranan penting di tanah sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi semua unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan dengan mencampur tanah membentuk alur-alur (Thompson & Throeh, 1978)
Biomassa lantai hutan terbagi dalam 3 lapisan yaitu : sersah, detritus, dan humus. Bahan – bahan ini siap digunakan oleh tanaman setelah terdekomposisi oleh mikroorganisme yang kemudian termineralisasi menjadi unsur – unsur (Siarudin dan Rachman, 2008).
BAB III
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
Alat dan Bahan
Kawat kuadratik ukuran 50 cm x 50 cm.
Pisau atau cethok.
Kertas sampul atau plastic
Alat tulis
Meteran
Cangkul
lup
Cara kerja
Meletakkan kawat kuadratik berukuran 50 cm x 50 cm pada lantai hutan yang masih utuh
Mengiris dengan hati-hati batas sampel tersebut dengan menggunakan pisau atau gunting.
Mengambil lapisan L (litter) pada bagian atas lantai hutan tanpa merusak keadaan dibawahnya, yang mempunyai ciri-ciri : seresah yang baru jatuh, kandungan air msih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar. Pisahkan lapisan L (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kantung terpisah yang berlabel.
Mengambil bagian F1 (fermentasi tahap 1) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang mulai terdekomposisi, bentuk sudah tidak utuh lagi, bentuk seresah asli masih kelihatan, warna kecoklatan, masih merupakan satuan seresah tunggal/ tidak saling lengket. Pisahkanlapisan F1 (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kontong terpisah yang berlabel.
Mengambil bagian F2 (fermentasi tahap 2) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang telah terdekomposisi lanjut, bentuk asli sudah tidak kelihatan lagi tapi masih bisa dibedakan jenis seresah, warna kecoklatan, seresah yang satu menempel pada seresah yang lain/ saling lengket. Pisahkan lapisan F2 (kalau mungkin) menjadi daun, tangkai/dahan, bunga/buah dan lain-lain dalam kontong terpisah yang berlabel.
Mengambil lapisan H (Humus) yang mempunyai ciri-ciri : berupa seresah yang telah terdekomposisi sempurna sehingga berbentuk seperti kompos, bentuk sudah tidak kelihatan lagi, warna kehitaman, struktur remah, gembur dalam kantong terpisah yang berlabel.
Menimbang hasil pengambilan lapisan L, F1, F2 dan H yang telah dibedakan daun, tangkai/dahan, bunga/buah sebagai berat basah C sampai mencapai(
Memasukkan lapisan L, F1, F2 dan H ke oven 65 berat kering mutlak
Menghitung kadar air, biomassa tertentu dan biomassa total dalam kg/ha
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No
Variabel
Lantai hutan
Seresah
Detritus
Humus
1
Ketebalan (cm)
3,2,3,3
1,2,2,1
1 1,5 1,5 1
2
Komposisi(%)
54,17 %
25 %
20,83%
3
Fauna(jenis)
Semut
semut
Semut, cacing
4
Jasat renik(kelimpahan)
jamur
jamur
-
Hutan pinus
No
Variabel
Lantai hutan
Seresah
Detritus
Humus
1
Ketebalan (cm)
6,4,9,4
1,2,3,3
1,2,3,3
2
Komposisi(%)
70%
19%
11%
3
Fauna(jenis)
2
1
1
4
Jasat renik(kelimpahan)
1
Pembahasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi tanah antara lain adalah lingkungan organisme pengurai, kelembaban, aerasi, pH tanah, dan juga temperatur atau suhu. Seresah adalah sisa jaringan tumbuhan baik berupa daun, ranting, cabang, maupun batang yang akan menjadi bahan organik serta mencirikan sifat tanah, berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah dan menyusun bahan material tanah. Seresah dapat digunakan apabila telah terjadi proses dekomposisi (perombakan). Sedangkan proses dekomposisi ini hanya merupakan mekanisme awal yang selanjutnya menentukan fungsi dan peran seresah dalam tanah .
Horison O adalah lapisan seresah bahan tumbuhan, terdiri atas bagian-bagianyang tampak masih utuh, sebagian terdekomposisi, dan lengkap terdekomposisi.Horison ini menumpang di permukaan tubuh tanah mineral.
Lapisan litter ( L ) pada lantai hutan mempunyai cirri-ciri: seresah yang baru jatuh, kandungan air masih tinggi, bentuk masih utuh, warna kehijauan atau kecoklatan, masih agak segar.
Dari hasil yang didapat ketebalan hutan alam dan hutan pinus sangat berbeda, apalagi komposisi nya, dilihat dari banyaknya jenis fauna hutan alam yang banyak. Seresah banyaknya di hutan alam karena vegetasi yang sangat bervariasi yang mempengaruhi ketebalan seresah yang terkomposisi, hanya saja untuk terkomposisi butuh waktu yang lama karena cahaya matahari tidak sampai ke lantai hutan.
faktor-faktor yang mempengaruhi jatuhnya sersah antara lain:
1.Umur daun yang semakin tua 2.Iklim 3.Makhluk hidup. Bahkan tumbuhan itu sendiri mampu mengakibatkan laju jatuhan seresah. 4.Bencana alam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi seresah antara lain:
1.Sinar matahari menghambat proses dekomposisi tanah sebab menyebabkan dekomposer menjadi kering.
2.Waktu.
3.Mikroorganisme.
4.Iklim yang mempengaruhi humifikasi.
5.Topografi.
6.Bahan Induk.
Perbedaan akumulasi seresah pada penggunaan lahan yang berbeda terletak pada bahan organik dari tanaman atau tegakkan pada lahan tersebut. Karena bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan menjaga kondisi fisik lahan. Begitupun akumulasi seresah pada bahan hutan berbeda dengan akumulasi seresah pada lahan pertanian. Pada lahan hutan seresah yang dihasilkan cukup banyak dan lebih cepat terdekomposisi, sedangkan pada lahan pertanian atau perkebunan seresah lebih sedikit dan belum terdekomposisi secara sempurna. Bahannya sudah digarap untuk proses pertanian ataupun perkebunan selanjutnya.
Kelembaban dihutan lebih tinggi disbanding pada lahan pertanian atau perkebunan sehingga dekomposer dapat hidup dengan baik menyebabkan proses dekomposisi seresah lebih cepat. Dalam akumulasi seresah daun menduduki peringkat teratas dalam hal jumlah karena sebagian besar penutup hutan adalah luasan tajuk, sehingga komposisi seresah terbanyak adalah daun dari tingkat kedua biasanya ranting karena sejumlah daun jatuh bersama dengan rantingnya. Humus juga memiliki jumlah yang besar karena humus merupakan gabungan dari seresah-seresah yg asomaorf
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.Biomassa pada lantai hutan merupakan hasil aktifitas biologis yang terdapat pada lantai hutan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada praktikum ini diketahui bahwa biomassa lantai hutan terbesar adalah litter daun yaitu 816 kg/ha.
2.Lapisan tanah hutan dibagi menjadi tiga yaitu litter, fragmentasi (fermentasi 1 dan fragmentasi 2), dan humus. Tingkatan dekomposisi dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari, waktu, iklim, topografi, mikroorganisme, dan bahan induk.
3.Dalam lahan kehutanan biasanya alami tanpa campur tangan manusia sehingga akumulasi seresah stabil sedangkan pada lahan pertanian biasanya dibutuhkan campur tangan manusia sehingga penggunaan akumulasi seresah ada yang langsung dapat digunakan sebagai pupuk. 4.Pengambilan contoh tanah paling baik dilakukan dengan cara tidak terusik, hal ini dikarenakan agar tekstur tanah yang kita amati tidak rusak. Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan dengan sifat-sifat tanah yang akan kita amati.
5.2 Saran
Untuk praktikan saat pengambilan data diharapkan memperhatikan saat Co-ass nya menjelaskan, agar tidak ada keliruan saat mengelola data.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Cahyono. 2008.Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan.Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM.
Murayama, S. dan Zahari, A.B. 1992.Biochemical decomposition of tropical forest. In Proceeding of the International Symposium on Tropical Peatlandi. Serawak, Malaysia : Kuching.
Simon, H. 1988. Pengantar Ilmu Kehutanan.Yogyakarta : Bagian Penerbitan Fakultas Kehutanan UGM.
Siarudin, M. & Rahmat. E. 2008. Biomassa Lantai Hutan. Kawasan Hutan Mangrove. Jawa
Barat.
Thompson, L.M. dan F. R. Troeh. 1978. Soils & Soils Fertility. Mc Braw– Hill Pub.GE
ACARA III
DIAGRAM PROFIL TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari batuan induknya karna interaksi antara, hidrosfer,atmosfer,litosfer dan biosfer ini adalah campuran dari konstituen mineral dan organic yang dalam keadaan padat,gas, dan cair. Jadi, tanah merupakan system tiga fase yaitu padat, cair dan gas yang selalu mengalami dinamisasi dalam kondisi seimbang. Dipandang dari segi pedology, tanah adalah suatu benda alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman.
Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup. Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk (regolit) menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain, sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah.
Dengan kata lain, profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah, dimulai dari permukaan tanah sampai lapisan bahan induk dibawahnya. Lapisan-lapisan tersebut terbentuk selain dipengaruhi oleh perbedaan bahan induk sebagai bahan pembentuknya, juga terbentuk karena pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan pengamatan profil tanah dalam langkah awal penelitian dan pengamatan terhadap tanah. Dari pengambilan sampel tanah yang dilakukan pada berbagai lapisan tanah tersebut kita dapat mengetahui karakteristik tanah, tekstur, warna, dan pH tanah.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa dapat mendiskripsikan perbedaan sifat-sifat tanah
dari satuan lahan yang berbeda.
. Agar mahasiswa dapat menguji sifat-sifat tanah dan ciri spesifik
suatu bentangan lahan.
Agar mahasiswa dapat mengetahui pengaruh faktor lingkungan
terhadap pembentukan tanah.
Agar mahasiswa dapat mengetahui sifat dan tanda-tanda khusus
suatu jenis tanah di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran tertentu dan kedalaman tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relative terhadap tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena adanya rongga-rongga udara.
Horizon tanah merupakan suatu lapisan tanah yang hampir sejajar dengan permukaan bumi yang merupakan hasil evolusi dan terdapat perbedaan sifat-sifat diantara horizon-horizon yang berbatasan (Henry D Foth, 1984).
Ada enam horizon dan lapisan utama dalam tanah yang masing-masing diberi symbol dengan satu huruf capital yaitu (dari atas ke bawah) O, A, E, B, C dan horizon yang berbentuk batuan atau horizon R (Harjowigeno, 2003). Horizon yang diberi simbol huruf besar dan kombinasi huruf tersebut merupakan simbol untuk horizon peralihan, sedangkan lapisan tanah yang terbentuk bukan karena proses pembentukan tanah (misalnya kerena proses pengendapan) diberi simbol angka romawi (I,II,III, dst)
Horizon O didominasi oleh bahan organic pecahan-pecahan mineral volumenya kecil dan beratnya biasa kurang dari separuhnya (Henry D Foth, 1984).
Asam organic dan CO2 yang diproduksi oleh tumbuhan yang membusuk meresap ke bawah horizon E atau zona pencucian (Elevasi). Pencucian mineral lempung dan terlarut ini dapat membuat horizon tanah berwarna pucat seperti pasir (Henry D Foth, 1985).
Horizon B atau zona akumulasi kadang agak melempung dan berwarna merah atau coklat karena akibat kandungan hematite dan lionitnya (Pairunan, 1985).
Horizon C merupakan suatu lapisan yang sukar dipengaruhi oleh proses-proses pembentukan tanah dan tidak memiliki sifat-sifat horizon lainnya (Henry D Foth, 1985).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Tes kit tanah lengkap.
Lembar pengamatan profil.
Alat tulis.
Profil tanah sepanjang bukit daun
Cara kerja
Memilih tempat yang tidak tergenang air, datar dan mewakili tempat
sekitarnya.
Menggali lubang untuk profil tanah dengan dinding di sebelah selatan,
ukuran panjang 1,5 m, lebar 1 m dan kedalaman 1 m. Tempat untuk
mengamati dibuatkan lubang bertangga. Profil tanah juga dapat
dibuat pada tebing yang dibuat tegak lurus.
Mencatat ciri-ciri morfologi di permukaan tanah sesuai dengan
formulir pelukisan profil.
Menandai perlapisan yang ada dengan garis yang tegas.
Mencatat ciri-ciri dakhil perlapisan sesuai dengan formulir yang ada.
Mengambil contoh tanah tiap lapisan dalam plastik yang beritiket :
Kode tempat, kode tanah, nomor lapisan, dan ciri-ciri
istimewa lainnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Diagram profil hutan alam
No
Horizon
1
O
2
A
3
B
Diagram profil hutan pinus
No
Horizon
1
A
2
E
3
AB
4
BA
5
B
Pembahasan
Diagram profil yang umum dilakukan adalah diagram profil vertical dan horizontal. Diagram profil vertical dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai stratifikasi dan struktur vegetasi hutan, sedangkan diagram profil horizontal dilakukan untuk mengetahui gambaran tutupan lantai hutan oleh kanopi pohon
Pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan ropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu:
Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C).
Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A).
Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati.
PH tanah juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik secara lansung berupa ion hydrogen sedangkan pengaruh tidak lansung yaitu tersedianya unsur-unsur hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran PH tanah mineral biasanya antara 3,5-10 atau lebih.sebaliknya untuk tanah gembur, PH tanah dapat kurang dari 3,0. Namun dari hasil pengamatan kami dengan menggunakan alat pengukur PH rata-rata hasilnya 3 lebih atau bisa karena adanya kesalahan alat dalam pegukuran.
Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga bebatuan induk (regolit) yang biasanya terdiri dari horizon O A E B C R. Horison tanah adalah lapisan tanah atau bahan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan berbeda dengan lapisan disebelah atas ataupun bawahnya yang secara genetik ada kaitannya.
Namun pada pengamatan yang telah dilakukan ditemukan ada empat jenis horizon yaitu O, A, B, C.Pengamatan propil tanah ini dilakukan untuk mengetahui jenis tanah yang terkandung, mengetahui umur tanah, sifat kimiawi tanah, dan yang paling penting adalah sebagai tempat media tumbuh untuk tegakan. Pada hutan alam ini masih terdapat horizon O dimana horizon ini terbentuk di atas lapisan tanah dan masih terlihat dengan jelas. Horizon A adalah horizon yang terdapat di permukaan tanah dan pencucian dari tanah liat. Horizon B merupakan bahan yang tercuci dari horizon A, pada horizon ini terdapat lempung sebagai hasil dari pelarutan karbonat dan garam.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa.
1. Tanah mempunyai karakteristik yang berbeda tiap jenisnya.
2. Karakteristik tanah dapat dibedakan dengan cara mengamati kedalaman lapisan tanah dan kedalaman perakaran tanah, tekstur dan struktur tanahnya.
3. Lapisan O memiliki kedalaman 0 – 20 cm. Lapisan A memiliki kedalaman 20 – 39 cm . lapisan B memiliki kedalaman 59 – 80 cm. Lapisan A merupakan lapisan yang ketebalannya paling tipis karena lapisan A hanyalah sebuah lapisan peralihan antara lapisan yang kaya akan humus dengan lapisan yang miskin akan humus.
5.2 Saran
hendaknya tersedianya alat laboratorium dan alat untuk ke lapangan harus lengkap
DAFTAR PUSTAKA
Foth, D Henry. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjamadah University:Yogyakarta.
Foth, H.D.dan L.N.Turk. 1999. Fundamentals Of Soil Science. Fifth Ed. John Waley & sons. New York.
Gliessman, R.Stephen.2000. AGROECOLOGY Ecological Processes in Sustainable Agriculture. CRC Press LLC., Florida
Guswono, S. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Kanisus Yogyakarta.
ACARA IV
KUALITAS KIMIA TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Segala kepentingan hidup di dunia tidak terlepas dari keperluan kita akan tanah. Tanah berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan di dunia, termasuk kehidupan manusia dan berbagai kehidupan yang menunjang hidupnya manusia. Oleh sebab itu tanah merupakan salah satu komponen alam yang mempunyai peran penting dalam proses kehidupan.
Tanah adalah sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan beragam yang berbeda yang terdiri dari butiran kerikil kasar, pasir, tanah lempung, tanah liat dan semua bahan lepas lainnya termasuk lapisan tanah paling atas sampai pada tanah keras. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu : iklim, makhluk hidup, bentuk wilayah, bahan induk dan waktu. Iklim dan makhluk hidup merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat aktif, sedangkan bentuk wilayah, bahan induk, dan waktu merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat pasif.
Jenis-jenis tanah mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda. Sifat dan karakteristik tanah dapat berupa sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah yang dapat diamati pada bagian terkecil tanah. Pedon adalah satuan individu terkecil tanah yang terbentuk dalam tiga dimensi. Pada bagian pedon dapat diamati lapisan-lapisan tanah yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah yang disebut dengan profil tanah.
Tanah dapat bermanfaat bagi manusia jika manusia dapat memeliharanya dengan baik. Namun tanah akan menjadi tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan sering menimbulkan ketidaktentraman jika manusia memperlakukannya tidak baik dengan memberikan tindakan dan perlakuan yang keliru.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui metode selidik cepat kualitatif terhadap 6
macam tanah yang tersedia
Agar mahasiswa terampil menguji tanah dengan metode selidik cepat
kualitatif di laboratorium.
Agar mahasiswa dapat membandingkan sifat-sifat utama tanah dari 6
contoh tanah.
Agar mahasiswa dapat memperkirakan proses-proses pedogenesa
yang mungkin terjadi dari sifat-sifat tanah yang diuji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah yang cukup dan komposisis yang ideal merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman. Oleh karena itu pada tanah-tanah yang mengalami kendala penyediaan hara, perlu dilakukan manipulasi lingkungan tumbuh tanaman untuk memperbaiki sifat kimia tanah tersebut (Anonim,2007).
Perubahan sifat kimia menyebabkan ketersediaan hara dalam tanah menjadi lebih baik atau berada dalam kategori sedang. Keadaan ini diharapkan memberikan pengaruh yang positif bagi pertumbuhan tanaman. Perbaikan sifat kimia tanah memberikan petunjuk bahwa jenis dan dosis pupuk yang diberikan dapat menjamin pasokan dan ketersediaan hara bagi tanaman (Masganti et al. 2005).
Pengendalian gulma selain menyebabkan perbaikan terhadap sifat kimia juga meningkatkan Kadar C organik dalam tanah karena hara pada tanah yang bertopografi bergelombang berkurang akibat terbawa aliran permukaan dan erosi (Sutono et al. 2005).
pH tanah atau kemasaman tanah atau reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H +) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain ion H+ dan ion-ion lain terdapat juga ion hidroksida (OH-), yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dibandingakan dengan jumlah ion OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan ion OH- lebih banyak dari ion H+. Jika ion H+ dan ion OH- sama banyak di dalam tanah atau seimbang, maka tanah bereaksi netral. Reaksi tanah adalah derajat kesaman tanah yang terdapat di larutan tanah Tinggi rendahnya reaksi tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah.Selain itu,kedaan musim,tindakan cocok tanam ,tempat pengambilan contoh,dan cara pengukuran tanah akan mempengaruhi nilai pH tanah (Ahmat 2006).
Tingkat pH tanah yang merugikan pertumbuhan tanaman dapat terjadi secara alami di beberapa wilayah, dan secara non alami terjadi dengan adanya hujan asam dan kontaminasi tanah. Peran pH tanah adalah untuk mengendalikan ketersedian nutrisi bagi vegetasi yang tumbuh diatasnya. Makronutrien(kalsium, fosfor, nitrogen, kalium, magnesium, sulfur) tersedia cukup bagi tanaman jika berada pada tanah dengan pH netral atau sedikit beralkalin. Kalsium, magnesium, dan kalium biasanya tersedia bagi tanaman dengan cara pertukaran kation dengan material organik tanah dan partikel tanah liat. Ketika keasaman tanah meningkat, ketersediaan kation untuk material organik tanah dan partikel tanah liat segera tercukupi sehingga tidak ada pertukaran kation dan nutrisi bagi tanaman berkurang. Namun semua itu tidak dapat disimplifikasi karena banyak faktor yang memengaruhi hubungan pH dengan ketersediaan nutrisi, diantaranya tipe tanah (tanah asam sulfat, tanah basa, dsb), kelembaban tanah, dan faktor meteorologika (Darmawijaya M Isa 2000)
Ada 2 metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran pH tanah yaitu kertas lakmus dan pH meter. Kertas lakmus sering di gunakan di lapangan untuk mempercepat pengukuran pH. Penggunaan metode ini di perlukan keahlian pengalaman untuk menghindari kesalahan. Lebih akurat dan secara luas di gunakan adalah penggunaan pH meter, yang sangat banyak di gunakan di laboratorium. Walaupun pH tanah merupakan indikator tunggal yang sangat baik untuk kemasaman tanah, tetapi nilai pH tidak bisa menunjukkan berapa kebutuhan kapur. Kebutuhan kapur merupakan jumlah kapur pertanian yang dibutuhkan untuk mempertahankan variasi pH yang di inginkan untuk sistem pertanian yang digunakan. Kebutuhan kapur tanah tidak hanya berhubungan dengan pH tanah saja, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menyangga tanah atau kapasitas tukar kation (KTK) (Susanto 2002).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
Larutan H2O2 10 %.
Larutan HCL 2N atau 10 %.
29
Larutan K3Fe(CN)6 0,5%
Larutan KCNS 10%
Larutan a a dipiridil
Larutan NaOH 40 %
Larutan H2O2 3 %.
Soil Munsell Colour Chart
Kertas HVS/kertas saring
3.3 Cara kerja
3.3.1 Penentuan Bahan Organik
1. Mengambil sebongkah tanah, kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikala H2O2 10 %.
4. Mengamati pembuihan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya buih antar sampel
3.3.2 Penentuan Kapur (CaCO3)
1. Mengambil sebongkah tanah, kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas yang kering (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia HCL 2N atau 10 %.
4. Mengamati percikan dan suara desis pada tanah yang ditetesi.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik dan kerasnya desis antara
sampel contoh tanah yang satu dengan yang lainnya. Yang memercik
banyak dan bersuara desis lebih keras diberi tanda (+) lebih banyak,
dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.3Penentuan Ferro dan Ferri
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kemikalia HCL 2N kemudian dengan
K3Fe(CN)6 0,5% untuk menguji Ferro ( Fe2+ ) dan dengan KCNS 10%
untuk pengujian Ferri (Fe3+).
4. Mengamati, warna pengujian ferro adalah biru, dan warna pengujian
ferri adalah merah
5. Penafsiran hasil :
- Hanya timbul warna merah : suasana oksidatif (oksik)mutlak (O3)
- Merah nyata disertai hijau : suasana oksik kuat (O2)
- Merah nyata disertai biru : suasana oksik sedang (O1)atau reduktif (anoksik)
sedang (R1)
- Biru nyata disertai merah jambu : suasana anoksik kuat (R2)
- Hanya timbul warna biru nyata : suasana anoksik mutlak (R3)
Catatan :
Larutan K3Fe(CN)6 0,5% berwarna kuning sehingga warna kuning saja
bukan warna reaksi ferro. Reaksi ferro lemah menimbulkan warna hijau
karena biru campur kuning menjadi hijau.
3.3.4. Pengamatan Gleisasi
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas yang kering (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia HCL 2N atau 10 %, kemudian dengan alfa-alfa dipiridil.
4. Mengamati warna merah di sebalik kertas yang berisi tanah teruji.
5. Mencatat perbandingan intensitas warna merah antara sampel yang satu dengan yang lainnya. Yang kuat diberi tanda positif (+) , dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-)
Keterangan :
alfa alfa dipiridil adalah zat beracun, maka harus dijaga jangan sampai terhisap atau terkena kulit
3.3.5 Pengamatan Si
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring)
3. Menetesi tanah dengan kamikalia NaOH 40 %.
4. Mengamati percikan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik antara sampel contoh tanah yang satu dengan yang lainnya. Yang kuat diberi tanda (+) lebih banyak, dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.6Penentuan Mn
1. Mengambil sebongkah tanah kira-kira 5 gram.
2. Meratakan tanah pada alas kertas (saring).
3. Menetesi tanah dengan kemikalia H2O2 3%.
4. Mengamati percikan pada tanah.
5. Mencatat perbandingan banyaknya percik antara sampel contoh tanah yang satu dengan yang lain. Yang kuat diberi tanda positif (+), dan yang tidak bereaksi diberi tanda negatif (-).
3.3.7 Penentuan warna tanah
1. Mengambil sebongkah tanah lembab.
2. Membandingkan tanah dengan warna tanah pada Soil Munsell Colour
Chart.
3. Mencatat sebutan dan nilai warna kuantitatifnya (Hue, Value dan
Chromanya).
4. Apabila ada bercak tanah maka dicari warna matrik (utama) dahulu
baru warna bercaknya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
O
A
B
1.
Bahan organik
2.
pH
6
6
6
Hutan pinus
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
A
E
AB
BA
B
1.
Bahan organik
+
+
+
+
-
2.
pH
6,1
6,2
6,3
7,5
7,5
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, masam. Hal ini ditunjukkan dengan PH sampel tanah yang berada di bawah 7. Tanah masam adalah tanah yang memilki nilai PH kurang dari 7 baik berupa lahan kering maupun lahan basah. Kemasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hydrogen ditanah tersebut. Bila kepekatan ion hydrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan akan bereaksi asam,sebaliknya bila kepekatan hodrogen terlalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH lebih tinggi dari ion H+.
Tanah bereaksi masam (PH rendah) adalah tanah kekurangan kalsium (caO) dan magnesium (MgO) yang disebabkan oleh curah ujan tinggi, pupuk pembentuk asam,drainase yang kurang baik, adanya unsur-unsur yang berlebihan (Al,Fe, dan Cu) dan proses dekomposisi bahan organic. PH tanah begitu berpengaruh semasa pertumbuhan vegetasi tanaman. Pengukuran dan pendektesi PH sangat penting karena dapat membantu kita untuk mengelola tanah dengan baik sehingga tanaman bisa tumbuhan dengan subur dan sempurna, jika tanah terlalu masam maka akan menyebabkan kerusakan pada akar sehingga menurunkan kualitas dan hasil panen. Sedangkan jika PH tanah terlalu basa akan menyebabkan tingginya kandungan alkali pada tanah terlalu basa akan mennghambat laju pertumbuhan tanaman.
PH tanah juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik secara lansung berupa ion hydrogen sedangkan pengaruh tidak lansung yaitu tersedianya unsur-unsur hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran PH tanah mineral biasanya antara 3,5-10 atau lebih.sebaliknya untuk tanah gembur, PH tanah dapat kurang dari 3,0. Namun dari hasil pengamatan kami dengan menggunakan alat pengukur PH rata-rata hasilnya 3 lebih atau bisa karena adanya kesalahan alat dalam pegukuran.
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi pH tanah melalui dua cara yaitu : pengaruh langsung ion hidrogen dan pengaruh tidak langsung yaitu tidak tersedianya unsur hara tertentu dan adanya unsur hara yang beracun.
Dari berbagai hasil penelitian di amerika latin dan puerto rico diketahui batas maksimum pH tanah kapur ( adam dan pearson , 1967 ) .batas pH yang dimaksud menunjukan bahwa diatas pH ini tanamanyang bersangkutan tidak lagi memerlukan kapur. Sebaliknya bila pH tanah dibawah nilai ini pertumbuhannya akan terganggu jika tidak diberi kapur.
Kebanyakan tanaman toleran pada pH yang ekstrim, tinggi dan rendah , asalkan dalam tanah tersebu tersedia hara yang cukup . sayangnya tersedianya unsur hara yang cukup itu dipengaruhi oleh pH . beberapa unsur hara tidak tersedia pada pH ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat meracun .
Perharaan yang sangat dipengaruhi oleh pH antara lain adalah :
a. Kalsium dan magnesium dapat ditukar
b. Alumunium dan unsur mikro
c. Ketersediaan fosfor
d. Perharaan yang bersifat atau berkaitan dengan kegiatan jasad mikro.
BAB V
PENUTUP
Dari praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ph tanah tepatnya ph larutan tanah sangat penting karena larutan tanah banyak mengandung unsur hara,dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh.
Nilai ph tanah di alam berbeda-beda pada setiap lokasi.Nilai ph tanah ditentukan oleh beberapa faktor,seperti:
1.kondisi musim setiap tahunnya.
2.cara bercocok tanam.
3.cara pengambilan sampel tanah
4.kandungan air pada saat pengambilan sampel.
5.metode pengukuran ph yang digunakan.
Selain itu juga,faktor-faktor yang menentukan ph tanah adalah pencucian kation basa dan vegetasi atau tanaman yang tumbuh di atas permukaan tanah.Sedangkan untuk penentuan Al-dd dan H-dd dilakukan dengan pengambilan sampel tanah sebagai objek penelitian merupakan tanah yang mengandung Aluminium dan Hidrogen karena hasil pengamatan sesuai dengan teori yaitu saat di titrasi warnanya berubah.Kandungan Al dan H tinggi dapat bersifat racun dan meracuni tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.
Saran
Dalam pelaksanaan praktikum di sarankan kepada praktikan melakukannya dengan hati-hati,seperti dalam melakukan ph meter, serta prosedur-prosedur lainnya.Hati-hati dalam bekerja karena menggunakan peralatan yang mahal dan mudah pecah.Selain itu sikap disiplin dan teliti juga sangat diperlukan.
.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2007. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UNS.
Surakarta.
Bailey 2001. Pengantar ilmu Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.
Darmawijaya M Isa 2000. Klasifikasi Tanah. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Hakim Nurhayati et al. 2003. Dasar – Dasar Ilmu Tanah.Universitas Lampung. Lampung.
Handayani 2009. Dasar-Dasar Klasifikasi Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Jangka Panjang.Tahun 1. Jurnal Tanah Tropika No.12 Volume 3. Jurusan Ilmu Tanah Faperta Universitas Lampung. Lampung.
ACARA V
KUALITAS FISIKA TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
. . Tanah seperti kita telah ketahui tesusun dari bahan anorganik (mineral) dan bahan organik. Selain kedua bahan tersebut di dalam massa tanah terdapat dua bahan lainya yaitu air dan udara. Dengan demikian dapat pla kita katakana bahwa tanah terdiri dari 3 fase yaitu fase padat, cair dan gas. Fase padat yaitu bahan mineral dan bahan organik menempati 50% volume tanah, sedangkan sisanya yang berupa rang pori-pori tanah ditempati oleh fase cair dan gas yang perbandinganya selalu beubah- ubah tergantung pada musim dan cara pengelolaan tanah. Adapn perandingan bahan mineral dan bahan organik juga bervariasi. Pada tanah mineral jumlah bahan mineral lebih besar daripada bahan organik, tetapi pada tanah organik terjadadi sebaliknya.
Sifat-sifat fisika tanah adalah sifat-sifat tanah yang ditentukan oleh bahan penyusunya. Sifat-sifat fiska tanah ini sangat penting untuk anada ketahui, karena memiliki pengarh yang besar terhadap pertumbuhan dan prodksi tanaman yang tumbuh di ats tanah tersebut. Sifat-sifat fisika tanah mempengaruhi ketersediaan air di daam tanah, menentukan penetrasi (penembusan) akar di dalam tanah, sifat drainase dan aerasi tanah, serta ketersediaan nsur-nsur hara tanaman. Sifat-sifat fisika tanah juga mempengaruhi sifat-sifat kimia dan biologi tanah.
Tujuan
Menetapkan batas lekat tanah (BL).
2. Menetapkan batas gulung tanah (BG).
3. Menetapkan batas berubah warna tanah (BBW).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sifat – sifat fisika tanah terdiri dari :
1.Batas - batas horison, dalam pengamatan tanah di lapangan ketajaman peralihan horison – horison ini diberikan kedalam beberapa tingkatannya yaitu ( lebar peralihan kurang dari 2,5 cm dan berangsur )
2.Warna tanah merupakan petunjuk beberapa sifat tanah karna warna tanah menunjukan apabila makin tinggi bahan organik, warnah tanah semakin gelap. Di daerah berdrainase buruk yaitu daerah yg selalu tergenang air seluruh tanah berwarna abu-abu karna senyawa Fe terdapat dalam keadaan reduksi. Pada tanah yang berdrainase baik yaitu tanah yang tidak pernah terendam air Fe terdapat dalam keadaan oksidasi.
3.Tesktur tanah, tekstur tanah menujukkan halus kasarnya tanah dari fraksi tanah halus (2mm). Tanah dikelompokkan kedalam beberapa tekstur tanah yaitu: kasar, agak kasar, sedang, agak halus dan halus.
4.Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir butir tanah . Struktur ini terjadi karena butir butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik oksida besi dan lain lain.
5.Konsistensi menunjukkan kekuatan daya kohesi butir – butir tanah dengan benda lain. Tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah di olah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.
6.Drainase tanah. Klas drainase ditentukan dilapangan dengan melihat adanya gejala gejala pengaruh air dalam penampang tanah.
Bulk density (kerapatan lindat). Menunjukan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori – pori tanah. Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah (Hardjowigeno, 1987).
Contoh tanah adaah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan sifat-sifat yang akan diteliti. Sifat-sifat fisika tanah, dapat kita analisis meaui dua aspek, yaitu disperse dan fraksinasi. Untuk mencari atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan 3 cara yaitu : pengambilan dalam keadaan agregat tidak terusik, pengambilan tanah tidak terusik dan pengambilan tanah terusik (Agus, 1998).
Agregat-agregat dalam tanah selalu dalam tingkatan perubahan yang continue. Pembasahan, pengeringan, pengolahan tanah, dan aktivitas biologis semuanya berperan di dalam pengrusakan dan pembangunan agregat-agregat tanah.Struktur lapisan oleh lapisan olah dipengaruhi oleh pengolahan praktis dan dimana aerasi dan drainase membatasi pertumbuhan tanaman, sistem pertanaman yang mampu menjaga kemantapan agregasi tanah akan memberikan hasil yang tinggi bagi produksi pertanian (Hakim, 1986).
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antar agregat. Tanah tersusun dari tiga fase yaitu : fase padatan, fase cair, dan fase gas. Fase cair dan gas mengisi ruang antar agregat. Stuktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusunnya. Ruang antar agregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi perakaran apabia pori berukuran besar terisi air. Tanah yang gembur memiliki agregat yang cukup besar. Tanah menjadi liat apabila berlebihan lempung, sehingga kekurangan makropori (Subagyo, 1970).
Fraksinasi adalah penganalisisan sifat-sifat fisika tanah dengan cara memisahkan butir-butir primer tersebut. Untuk mencari dan atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan pengambilan tanah tidak terusik, terusik, dan agregat tidak terusik (Soegiman,1982).
Tekstur tanah dipengaruhi oleh faktor proses pembentukan tanah tersebut, faktor pembentukan tanah yang penting antara lain adalah bahan induk tanah. Bahan induk bertekstur kasar cenderung menghasilkan tanah bertekstur kasar dan sebaliknya (Hardjowigeno, 2003).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Ilmu Tanah Hutan ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Minggu,20 Mei 2018
Waktu : 08.00 Wib
Tempat : Bukit Daun di,Kabupaten kepahiang kota bengkulu.Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Cara kerja
BATAS LEKAT TANAH (BL)
Alat dan Perlengkapan :
Sebuah colet yang mengkilat bersih dan permukaanya rata (sebaiknya
dari nikel), 2 buah penimbang, sebuah botol pemancar air, sebuah
timbangan analitis (teliti sampai 0,0001 g) sebuah dapur pengering, sebuah
eksikator.
Bahan : Pasta tanah sisa acara batas cair tanah.
Cara Kerja :
1. Mengambil sisa pasta tanah acara BT, gumpalkan dalam tangan dan tusukkan colet ke dalamnya sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 1 cm/detik. Dapat juga dijalankan dengan menggumpal-gumpalkan pasta dengan ujung colet sepanjang 2,5 cm ada didalamnya dan kemudian colet ditarik secepat 0,5 detik.
2. Memeriksa permukaan colet :
a. Bersih, tidak ada tanah lebih kering dari BL.
b. Tanah atau suspensi tanah melekat, berarti pasta tanah lebih basah dari BL.
3. Tergantung dari hasil pemeriksaan dalam langkah ke-2 pasta tanah dibasahi atau dikurangi kelembabannya, dan langkah ke-1 diulangi lagi sampai dicapai keadaan di permukaan colet di sebelah ujungnya melekat suspensi tanah seperti dempul sepanjang kira-kira 1/3 x dalamnya penusukan (kira-kira 0,8 cm).
4. Mengambil tanah sekitar tempat tusukan sebanyak kira-kira 10 g dan tetapkan kadar lengasnya seperti dalam acara kadar lengas.
5. Mengerjakan lagi langkah-langkah ke-1 s/d ke-4 sebagai duplo. Hasil duplo dengan yang pertama tidak bolah berselisih lebih dari 1%. Kalau lebih, harus diulangi lagi sampai diperoleh 2 pengamatan yang selisihnya tidak lebih dari 1%.
Perhitungan : Dari pengamatan itu hitunglah kadar lengas rata-ratanya
dan ini adalah BL-nya.
Catatan : Kecepatan penusukan-penarikan colet penting karena kecepatan pergeseran dapat mempengaruhi kemungkinan tanah melekat di p
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hutan alam
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
O
A
B
1
Ketebalan (cm)
2
Kelas tekstrur
3
Struktur
4
Warna
5
Plastisitas
6
Batas lekat
7
Kadar lengas
8
Berat volume
9
Kelembaban
2
5,5
4,5
Hutan pinus
No.
Variabel
Horizon (Lapisan)
A
E
AB
BA
B
1
Ketebalan (cm)
12
10
8
13
57
2
Kelas tekstrur
Geluh pasiran
Geluh pasiran
Geluh
Geluh
Lepung
3
Struktur
Debu pasir liat
Debu pasir liat
Debu pasiran
Debu pasiran liat
Liat
4
Warna
Gray
Gray
Yellow redis
Yellow redis
Yellow redis
5
Plastisitas
Agak plastis
Agak plastis
Sedang
Sedang
Plastis
6
Batas lekat
7
Kadar lengas
8
Berat volume
9
Kelembaban
6,7
6,3
6,1
5,8
5,3
4.2 Pembahasan
Pengamatan pada profil tanah di lapangan merupakan cara untuk menentukan sifat-sifat fisika tanah,dimana hanya dengan mengamati sifat-sifat fisika tanah kita mengklasifikasikan tanah kedalam suatu kelas tanah.Sifat-sifat tanh yang diamati yaitu tekstur,struktur,dan warna tanah.
Pada pengamatan tanah dengan indra,warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah,diantaranya yaitu kandungan bahan organic,drainase.Warna tanah sangat mempengaruhi oleh kadar lengas didalamnya.Tanah yang kering warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang basah,ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan pada hutan pinus didapat hasil warna tanah diantaranya:
1.Sampel tanah A =Gray
2.Sampel tanah E = Gray
3.Sampel tanah AB = Yellow redish
4.Sampel tanah BA = Yellow redish
5.Sampel tanah B = Yellow redish
Tekstur tanah
Ada tiga macam tanah yang utama yaitu lempung,pasir,dan geluh.Tanah dikatakan pasir apabila kandungan pasirnya 70%,sedangkan lempung apabila kandungan litany lebih dari 35%,jika suatu fraksi liat ataupun pasir,maka itu fraksi debu/geluh.Penetapan tekstur tanah ada 2 yaitu penetepan di Laboratorium dan penetapan di Lapangan.Pada percobaan yang kami lakukan kami melakukan penetapan tekstur lapangan,dan menurut hasil yang kami dapatkan diantaranya:
1.Sampel tanah A =Geluh pasiran
2.Sampel tanah E = Geluh pasiran
3.Sampel tanah AB = Geluh
4.Sampel tanah BA = Geluh
5.Sampel tanah B = Lempung
Pada penentuan tekstur ini data yang kami buat error karena kurangnya pemahaman saat membaca metode kerja pada buku penuntun dan ketlitian pada saat melakukan percobaan
Sifat fisik tanah yang paling mudah ditentukan yaitu dari warna tanah,karena dari warna tanah kita sudah mengetahui tingkat kesuburan dari tanah,tingkat drainase dan aerase tanah,tingkat perkembangan tanah,dan menentukan jenis dan kadar BO pada tanah.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pertumbuhan. Tanah bersifat dinamis, dimana tanah mengalami perkembangan setiap waktunya. Karakteristik tanah di setiap daerah tentunya berbeda dengan daerah lainnya. Tanah dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimilikinya. Data yang diperlukan untuk klasifikasi tanah adalah data mengenai sifat-sifat tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan tanah atau yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. Pengambilan contoh tanah dilakukan untuk menentukan sifat-sifat tanah, Sifat fisik yang paling jelas dan yang paling mudah ditentukan adalah warna tanah dimana warna tanah dapat digunakan untuk ; tingkat kesuburan dari tanah,tingkat drainase dan aerase tanah,tingkat perkembangan tanah,dan menentukan jenis dan kadar BO pada tanah.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam pengamatan profil tanah dilakukan dengan hati-hati dan lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan pada pembuatan data nantinya
DAFTAR PUSTAKA
.
Dargunoglu, H.T.,and J.K. Mitchell. 1975a. Static Penetration Resistencr of Soil; I. Analyses.p.151-171.In Proc.Conf.on In Situ Measurement of Soil Properties. Vol. I Am. Civil Eng. New York.
Dargunoglu, H.T.,and J.K. Mitchell. 1975a. Static Penetration Resistencr of Soil; II. Evaluation of Theory and Implication for Practices.p. 172-189. In Proc. Conc. On In Situ Measurement of Soil Properties. Vol I Am. Civil Eng. New York.
Hardjowigeno, Sarwono.1987.Ilmu Tanah.Rineka Cipta: Jakarta
Kurnia, Undang et al. 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Agro Inovasi. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian
Lowery,B., and R.T Schuler. 1994. Duration and Effect of Compaction On Soil and Plant Growht in Winconsin. Soil Tillage. Res. 29; 205-210.
Splanger.M.G, and R. L. Handy. 1982. Soil Engingering. 4th Ed. Harper and Row Publ. Harper and Row Publication.
Vepraskas,M.J.1984. Cone Index of Loamy Sands as Influenced by Pore Size Distribution an Effective Stress. Soil Scie.Soc. Am. J. 48 : 1.220-1. 225.
Dokumentasi
Komentar
Posting Komentar